Coronavirus Outbreak Survival Guide for Brands

Wabah virus corona atau COVID-19 adalah pandemi global yang memberikan dampak kepada seluruh masyarakat. Saat ini terdapat lebih dari 300.000 kasus di 190 negara yang akan terus berkembang. Sedangkan di Indonesia sendiri, terdapat lebih dari 400 kasus dan diprediksikan akan terus bertambah selama beberapa waktu ke depan. Yang berbeda dari virus ini adalah jumlah negara yang terdampak jauh lebih besar, sehingga terjadi perubahan perilaku konsumen yang lebih global.

Kami menyadari setidaknya ada 4 perubahan besar dalam perilaku konsumen yang terjadi di era pandemi COVID-19. Pertama, konsumen menjadi lebih peka terhadap kebersihan, sehingga konsumsi produk kebersihan dan kesehatan meningkat dan konsumen lebih memperhatikan kebersihan produk-produk yang akan dibeli. Kedua, konsumen cenderung membatasi kontak fisik, sehingga mengurangi belanja secara offline. Selanjutnya, konsumen kembali fokus pada pembelian kebutuhan primer, sehingga mengurangi pembelian kebutuhan tersier, baik produk kecantikan, ataupun makanan non-primer seperti cokelat, alkohol, dan es krim. Dan yang terakhir, konsumen mengisolasi diri di rumah masing-masing, sehingga memiliki lebih banyak waktu luang.

Tentunya pemilik brand perlu untuk menyesuaikan proses bisnisnya agar tetap bertahan di masa yang tidak menentu ini. Berikut adalah 4 upaya yang dapat dilakukan brand agar dapat mempertahankan konsumen dan melalui era krisis.

Inovasi produk dan strategi penjualan

Karena konsumsi produk kebersihan meningkat, brand harus melakukan inovasi dalam strategi penjualan produknya, seperti memberikan detail lengkap dan membuat konten iklan yang memberikan kepercayaan bahwa produknya dibuat, ditangani, dan dikirim secara higienis. Selain itu, brand juga dapat membuat strategi promosi seperti free delivery atau menyiapkan strategi pre-order.

Membuat konten yang relevan terhadap kondisi saat ini

Karena konsumen mengurangi pembelian secara offline, brand akan fokus pada penjualan online. Untuk dapat menangkap perhatian konsumen, buatlah konten yang menunjukkan simpati terhadap kondisi masyarakat, menambah konten yang berhubungan dengan isu virus corona, dan mengurangi konten yang hard-selling.

Sebagai pemilik brand, pertanyaan paling penting yang harus ditanyakan pada tim saat ini bukanlah, 'Bagaimana kami bisa menjual lebih banyak?', tetapi, "Bagaimana kami dapat membantu konsumen di masa seperti ini?". Fokus pada peningkatan penjualan di tengah-tengah situasi seperti ini bukanlah tindakan yang tepat.

Berbagai perusahaan di seluruh dunia telah menunjukkan dukungan dan simpati mereka. Perusahan seperti Facebook, Shopify, dan lainnya telah menjanjikan bantuan dana untuk membantu memerangi COVID-19.

Bentuk dukungan dan bantuan dari brand-mu tidak harus seperti Facebook atau perusahaan lainnya. Namun brand kamu dapat memberikan sumbangan atau membagikan produk kepada orang-orang yang membutuhkan bantuan saat ini. Anggaplah upaya ini sebagai investasi, yang akan terbayarkan dengan penjualan dan loyalitas setelah krisis berlalu.

Fokus pada strategi Remarketing dan kurangi anggaran iklan

Karena penurunan jumlah pembelian barang sekunder dan tersier, brand akan sulit mendapatkan konsumen baru. Seluruh upaya marketing disarankan fokus pada konsumen loyal atau yang sudah pernah membeli produk brand-mu, mengingat konsumen baru akan fokus pada pembelian produk primer atau produk yang sudah mereka percaya.

Pelajari dan analisa data brand-mu secara lebih efektif untuk mengidentifikasi pelanggan loyal brand-mu. Hal ini dapat dilakukan dengan melihat perilaku masa lalu dan menemukan pola untuk mengelompokkan audiens, dan kemudian memprediksi tingkat konversi masing-masing kelompok audiens tersebut. Setelah itu, kamu dapat menyesuaikan marketing campaign dengan masing-masing kelompok audiens tersebut.

Berkurangnya aksi pembelian juga berdampak pada anggaran iklan yang sebaiknya sebuah brand alokasikan. Mengingat kemungkinan konversi dari iklan akan berkurang, lebih baik untuk menggunakan jumlah anggaran yang efektif untuk menargetkan konsumen yang probabilitas pembeliannya lebih tinggi.

Gunakan beragam online platform

Karena konsumen memiliki lebih banyak waktu luang, maka konsumen akan mengakses lebih banyak platform belanja online. Brand harus mempertimbangkan untuk menyebar konten di beragam channel.

Jika brand-mu saat ini mengalami keterlambatan logistik, atau mengalami kesulitan untuk mendapatkan stok karena penutupan pabrik, sangat penting untuk selalu berikan informasi detail kepada konsumen.

Dengan menjaga agar pelanggan mendapat informasi terbaru tentang produk, perkiraan waktu pengiriman, dan membuat mereka sadar mengapa penundaan terjadi dan apa yang mereka harapkan, kami dapat mencegah mereka mencari di tempat lain.

Untuk memastikan brand-mu dapat menjangkau seluruh konsumenmu dan menjawab pertanyaan atau keluhan mereka secara tepat waktu, gunakan komunikasi multichannel untuk melibatkan mereka, baik itu melalui situs web, email, media sosial, whatsapp, ataupun e-commerce. Hal ini ini akan membuat konsumen merasa semakin dekat dengan brand-mu.

Kondisi pandemik virus corona ini adalah kondisi spesial yang harapannya akan segera berakhir. Bahkan setelah berakhir, masyarakat akan kembali beraktivitas, namun dengan normalitas yang baru. Penjualan offline mungkin akan pulih, pembelian produk tersier kembali meningkat, namun ada kemungkinan bahwa kesadaran masyarakat terhadap kebersihan akan lebih tinggi dibandingkan sebelum terjadinya pandemi ini. Penting untuk brand terus meyakinkan bahwa produk dan jasa yang ditawarkan memenuhi standar kualitas penanganan dan kebersihan.

Jika brand kamu mengalami kesulitan atau memiliki kasus yang spesifik selama masa pandemi virus corona ini, kami siap berdiskusi dan mengembangkan strategi khusus sesuai dengan kondisi brand-mu saat ini. Get in touch with our team today!

 0818 0575 7585

 hi@bolehdicoba.com

 @bolehdicobadigital