{"id":26729,"date":"2025-02-22T07:31:00","date_gmt":"2025-02-22T00:31:00","guid":{"rendered":"https:\/\/bolehdicoba.com\/?p=26729"},"modified":"2025-02-20T20:17:02","modified_gmt":"2025-02-20T13:17:02","slug":"bahaya-flexing-culture-alternatif-yang-bisa-brand-gunakan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bolehdicoba.com\/id\/news-blog\/bahaya-flexing-culture-alternatif-yang-bisa-brand-gunakan\/","title":{"rendered":"Bahaya \u2018Flexing Culture\u2019 &amp; Alternatif yang Bisa Brand Gunakan?"},"content":{"rendered":"<p>Gak bisa dipungkiri kalau era media sosial memberikan banyak dampak positif. Di era ini, kamu bisa terhubung dengan orang lain tanpa harus mikirin jarak. Dari segi bisnis, hal ini juga sangat menguntungkan. Sayangnya, ada beberapa tren negatif yang lahir di era ini, salah satunya adalah <em>flexing culture<\/em>.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Jika dilihat tanpa kacamata \u201cetika\u201d, sebenarnya budaya <em>flexing<\/em> sangat menguntungkan bagi suatu bisnis. Pasalnya, karena harus pamer di media sosial, masyarakat cenderung lebih konsumtif. Artinya, ada lebih banyak celah yang bisa kamu gunakan untuk meningkatkan <em>sales<\/em> di sini.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p><em>But, we are human first before businessmen\/businesswomen, aren&#8217;t we?<\/em> Berbisnis tanpa etika hanya akan menimbulkan masalah di kemudian hari. Karena itu, kamu bisa mencari alternatif pemasaran lain yang lebih etis dan <em>sustainable<\/em> tanpa harus mendekati bahaya <em>flexing culture.<\/em><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Fenomena Flexing Culture di Era Digital<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p>Buddies, kamu tahu gak apa itu <em>flexing culture<\/em><em>?<\/em> Ini merupakan <em>slang<\/em> yang berasal dari kelompok Afro Amerika di tahun 90-an. Singkatnya, <em>flexing<\/em> adalah perilaku yang menunjukkan bahwa kamu bangga dengan apa yang kamu capai atau miliki. Tapi, terkesan pamer dan <em>annoying<\/em>.<a href=\"https:\/\/dictionary.cambridge.org\/dictionary\/english\/flexing\"><sup>[1]<\/sup><\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Budaya ini semakin terlihat ketika popularitas media sosial meningkat. Pasalnya, orang-orang mulai punya wadah yang tepat untuk pamer. Bayangkan saja, dalam sekali <em>post<\/em>, kamu bisa pamer ke 139 juta pengguna medsos di Indonesia.<a href=\"https:\/\/datareportal.com\/reports\/digital-2024-indonesia\"><sup>[2]<\/sup><\/a> Ini belum termasuk pengguna di seluruh dunia, lho ya.<\/p>\n\n\n\n<p>Jika ditilik dari segi psikologi, tujuan <em>flexing<\/em> adalah untuk membuktikan diri bahwa mereka lebih superior dari orang lain.<a href=\"https:\/\/www.um-surabaya.ac.id\/en\/article\/dosen-psikologi-paparkan-alasan-seseorang-lakukan-flexing\"><sup>[3]<\/sup><\/a> Mereka ingin terlihat \u201cwah\u201d, <em>attractive,<\/em> dan menunjukkan bahwa mereka ada di tingkatan sosial teratas. Hal yang biasa dibanggakan bisa berupa uang, barang mewah, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n<p>Ada banyak <em>platform<\/em> yang bisa kamu gunakan untuk melihat budaya <em>flexing<\/em>, namun yang paling sering adalah di TikTok dan Instagram. Bahkan, ada banyak orang yang berubah menjadi selebriti medsos karenanya. Kamu mungkin sudah mengenalnya dengan istilah selebgram dan selebtok.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Sayangnya, indikator \u201cterkenal karena <em>flexing\u201d<\/em> ini membuatnya semakin <em>toxic<\/em>. Sebab, ada banyak orang yang ingin ikut pamer dengan tujuan ingin mendapatkan banyak <em>likes<\/em>, viral, dan terkenal. Ini adalah salah satu dampak negatif <em>flexing culture<\/em> yang gak terhindarkan.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Dampak Flexing Culture terhadap Perilaku Konsumen &amp; Masyarakat<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p>Kamu mungkin udah punya gambaran singkat tentang dampak <em>flexing<\/em> pada penjelasan di atas. Supaya Buddies lebih paham, berikut penjelasan lebih jauhnya!&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>1. Menimbulkan Sifat Konsumtif<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Salah satu dampak yang paling jelas dari tren ini adalah menimbulkan sifat konsumtif. Akibatnya, orang lebih sering menghamburkan uang untuk membeli barang mewah tanpa pertimbangan matang. Bahkan, ada yang rela ngutang ke teman atau keluarga, ambil pinjaman <em>online<\/em>, dan lain sebagainya.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Karena melihat orang <em>flexing<\/em> di media sosial dan mendapatkan banyak pujian, tidak jarang hal ini mendorong seseorang untuk belanja di luar kemampuan. Hal ini bisa membahayakan kehidupan mereka di masa depan.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>2. Sumber Masalah Mental<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Selain berdampak pada perilaku konsumen, budaya ini juga sangat berpengaruh pada masyarakat secara keseluruhan. Pasalnya, tren ini bisa menjadi sumber masalah mental, mulai dari kehilangan jati diri, <em>anxiety<\/em> atau gangguan kecemasan, hingga depresi.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Ketika melihat orang lain punya hal yang tidak kamu miliki, tidak jarang muncul rasa iri. Rasa iri ini bisa berkembang menjadi rasa rendah diri. Akibatnya, kamu akan mulai kehilangan percaya diri, sering merasa cemas tanpa alasan, dan lain sebagainya.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Hal ini juga berlaku jika posisi kamu adalah orang yang suka <em>flexing<\/em>. Akibatnya, hidup akan disetir oleh <em>likes<\/em> dan komentar orang lain. Jika jumlah <em>likes<\/em> dan komentar tidak sesuai dengan apa yang kamu harapkan, kesehatan mental juga bisa terdampak olehnya.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Strategi Alternatif untuk Brand: Membangun Nilai tanpa Flexing<\/strong><em>meja<\/em><\/h2>\n\n\n\n<p>Mengingat semua dampak buruk budaya <em>flexing<\/em>, kamu pasti ingin menjadi pebisnis yang beretika kan, Buddies? Karena itu, ada beberapa alternatif pemasaran lain yang tidak berorientasi pada <em>flex<\/em>, seperti:<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>1. Value-Driven Marketing<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Cara pemasaran pertama adalah dengan menitikberatkan pada <em>value<\/em>. Kamu bisa fokus ke <em>storytelling<\/em>. Pastikan <em>brand<\/em> identitas yang melekat dan punya cerita unik untuk dibagi dengan konsumen. Jangan lupa untuk mengutamakan kualitas, manfaat, dan pengalaman pelanggan.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>2. Sustainable &amp; Ethical Branding<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p><em>Our planet is dying<\/em>. Kamu mungkin sering mendengar kalimat ini, dan kalimat ini ada benarnya. Itulah alasan mengapa produk-produk yang menonjolkan <em>sustainable-value<\/em> sering sukses di pasaran. Selain menyoroti keberlanjutan, kamu pun bisa menonjolkan transparansi dan tanggung jawab sosial dalam pemasaran dengan <em>ethical branding<\/em>.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>3. Authenticity &amp; Community Building<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Hindari pencitraan dan rangkul <em>authenticity<\/em>. Kamu bisa mendorong <em>engagement<\/em> berbasis <em>value<\/em> dan membangun komunitas berdasarkan hal itu. Percayalah jika cara marketing yang seperti ini akan jauh lebih baik daripada hanya sekadar <em>flexing<\/em>.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Jika kamu bingung harus memulai dari mana, maka memilih layanan digital marketing terbaik di <a href=\"https:\/\/bolehdicoba.com\/id\/\">BDD<\/a> bisa jadi jawabannya. Layanan tersebut adalah:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><a href=\"https:\/\/bolehdicoba.com\/id\/services\/digital-advertising\/\"><strong>Digital Performance<\/strong><\/a>, untuk memaksimalkan potensi semua kanal digital agar performanya sesuai dengan apa yang kamu inginkan.&nbsp;<\/li>\n\n\n\n<li><a href=\"https:\/\/bolehdicoba.com\/id\/services\/performance-creative\/\"><strong>Creative Performance<\/strong><\/a>, untuk menciptakan konten ber-value dan beresonansi dengan target <em>audience<\/em> yang unik.&nbsp;<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p>Pastinya, kamu bisa menggunakan kedua layanan BDD tersebut sekaligus untuk menciptakan tren baru tanpa <em>flexing culture<\/em>. Jadi, tunggu apa lagi, Buddies? Ayo mulai bekerja sama dengan BDD sekarang juga!&nbsp;<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Flexing culture adalah tren yang berbahaya karena memicu perilaku konsumtif. Kenali beragam strategi alternatif yang bisa digunakan brand<\/p>","protected":false},"author":13,"featured_media":26708,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[761,756],"tags":[884,35,1323],"class_list":["post-26729","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-all-article","category-digital-marketing","tag-bdd","tag-digital-marketing","tag-flexing-culture"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v22.8 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Bahaya \u2018Flexing Culture\u2019 &amp; Alternatif yang Bisa Brand Gunakan?<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Flexing culture adalah tren yang berbahaya karena memicu perilaku konsumtif. Kenali beragam strategi alternatif yang bisa digunakan brand\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/bolehdicoba.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26729\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Bahaya \u2018Flexing Culture\u2019 &amp; Alternatif yang Bisa Brand Gunakan?\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Flexing culture adalah tren yang berbahaya karena memicu perilaku konsumtif. Kenali beragam strategi alternatif yang bisa digunakan brand\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/bolehdicoba.com\/id\/news-blog\/bahaya-flexing-culture-alternatif-yang-bisa-brand-gunakan\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Boleh Dicoba Digital\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-02-22T00:31:00+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-02-20T13:17:02+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/bolehdicoba.com\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/Flexing-Culture-scaled.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"2560\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1918\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Anindita Dita\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Anindita Dita\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"4 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/bolehdicoba.com\/news-blog\/bahaya-flexing-culture-alternatif-yang-bisa-brand-gunakan\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/bolehdicoba.com\/news-blog\/bahaya-flexing-culture-alternatif-yang-bisa-brand-gunakan\/\"},\"author\":{\"name\":\"Anindita Dita\",\"@id\":\"https:\/\/bolehdicoba.com\/#\/schema\/person\/32f6a424c81fd4134de87a7a223379af\"},\"headline\":\"Bahaya \u2018Flexing Culture\u2019 &amp; Alternatif yang Bisa Brand Gunakan?\",\"datePublished\":\"2025-02-22T00:31:00+00:00\",\"dateModified\":\"2025-02-20T13:17:02+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/bolehdicoba.com\/news-blog\/bahaya-flexing-culture-alternatif-yang-bisa-brand-gunakan\/\"},\"wordCount\":810,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/bolehdicoba.com\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/bolehdicoba.com\/news-blog\/bahaya-flexing-culture-alternatif-yang-bisa-brand-gunakan\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/bolehdicoba.com\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/Flexing-Culture-scaled.jpg\",\"keywords\":[\"bdd\",\"digital marketing\",\"flexing culture\"],\"articleSection\":[\"All Article\",\"Digital Marketing\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/bolehdicoba.com\/news-blog\/bahaya-flexing-culture-alternatif-yang-bisa-brand-gunakan\/\",\"url\":\"https:\/\/bolehdicoba.com\/news-blog\/bahaya-flexing-culture-alternatif-yang-bisa-brand-gunakan\/\",\"name\":\"Bahaya \u2018Flexing Culture\u2019 &amp; Alternatif yang Bisa Brand Gunakan?\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/bolehdicoba.com\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/bolehdicoba.com\/news-blog\/bahaya-flexing-culture-alternatif-yang-bisa-brand-gunakan\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/bolehdicoba.com\/news-blog\/bahaya-flexing-culture-alternatif-yang-bisa-brand-gunakan\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/bolehdicoba.com\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/Flexing-Culture-scaled.jpg\",\"datePublished\":\"2025-02-22T00:31:00+00:00\",\"dateModified\":\"2025-02-20T13:17:02+00:00\",\"description\":\"Flexing culture adalah tren yang berbahaya karena memicu perilaku konsumtif. Kenali beragam strategi alternatif yang bisa digunakan brand\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/bolehdicoba.com\/news-blog\/bahaya-flexing-culture-alternatif-yang-bisa-brand-gunakan\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/bolehdicoba.com\/news-blog\/bahaya-flexing-culture-alternatif-yang-bisa-brand-gunakan\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/bolehdicoba.com\/news-blog\/bahaya-flexing-culture-alternatif-yang-bisa-brand-gunakan\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/bolehdicoba.com\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/Flexing-Culture-scaled.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/bolehdicoba.com\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/Flexing-Culture-scaled.jpg\",\"width\":2560,\"height\":1918,\"caption\":\"flexing culture\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/bolehdicoba.com\/news-blog\/bahaya-flexing-culture-alternatif-yang-bisa-brand-gunakan\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/bolehdicoba.com\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Bahaya \u2018Flexing Culture\u2019 &amp; Alternatif yang Bisa Brand Gunakan?\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/bolehdicoba.com\/#website\",\"url\":\"https:\/\/bolehdicoba.com\/\",\"name\":\"Boleh Dicoba Digital\",\"description\":\"\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/bolehdicoba.com\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/bolehdicoba.com\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/bolehdicoba.com\/#organization\",\"name\":\"Boleh Dicoba Digital\",\"url\":\"https:\/\/bolehdicoba.com\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/bolehdicoba.com\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/bolehdicoba.com\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/Logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/bolehdicoba.com\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/Logo.png\",\"width\":201,\"height\":80,\"caption\":\"Boleh Dicoba Digital\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/bolehdicoba.com\/#\/schema\/logo\/image\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/bolehdicoba.com\/#\/schema\/person\/32f6a424c81fd4134de87a7a223379af\",\"name\":\"Anindita Dita\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/bolehdicoba.com\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/70f0369ddf669f9412840c20218fd1f2?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/70f0369ddf669f9412840c20218fd1f2?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Anindita Dita\"},\"url\":\"https:\/\/bolehdicoba.com\/id\/news-blog\/author\/dita\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Bahaya \u2018Flexing Culture\u2019 &amp; Alternatif yang Bisa Brand Gunakan?","description":"Flexing culture adalah tren yang berbahaya karena memicu perilaku konsumtif. Kenali beragam strategi alternatif yang bisa digunakan brand","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/bolehdicoba.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26729","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Bahaya \u2018Flexing Culture\u2019 &amp; Alternatif yang Bisa Brand Gunakan?","og_description":"Flexing culture adalah tren yang berbahaya karena memicu perilaku konsumtif. Kenali beragam strategi alternatif yang bisa digunakan brand","og_url":"https:\/\/bolehdicoba.com\/id\/news-blog\/bahaya-flexing-culture-alternatif-yang-bisa-brand-gunakan\/","og_site_name":"Boleh Dicoba Digital","article_published_time":"2025-02-22T00:31:00+00:00","article_modified_time":"2025-02-20T13:17:02+00:00","og_image":[{"width":2560,"height":1918,"url":"https:\/\/bolehdicoba.com\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/Flexing-Culture-scaled.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Anindita Dita","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"Anindita Dita","Estimasi waktu membaca":"4 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/bolehdicoba.com\/news-blog\/bahaya-flexing-culture-alternatif-yang-bisa-brand-gunakan\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/bolehdicoba.com\/news-blog\/bahaya-flexing-culture-alternatif-yang-bisa-brand-gunakan\/"},"author":{"name":"Anindita Dita","@id":"https:\/\/bolehdicoba.com\/#\/schema\/person\/32f6a424c81fd4134de87a7a223379af"},"headline":"Bahaya \u2018Flexing Culture\u2019 &amp; Alternatif yang Bisa Brand Gunakan?","datePublished":"2025-02-22T00:31:00+00:00","dateModified":"2025-02-20T13:17:02+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/bolehdicoba.com\/news-blog\/bahaya-flexing-culture-alternatif-yang-bisa-brand-gunakan\/"},"wordCount":810,"publisher":{"@id":"https:\/\/bolehdicoba.com\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/bolehdicoba.com\/news-blog\/bahaya-flexing-culture-alternatif-yang-bisa-brand-gunakan\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/bolehdicoba.com\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/Flexing-Culture-scaled.jpg","keywords":["bdd","digital marketing","flexing culture"],"articleSection":["All Article","Digital Marketing"],"inLanguage":"id"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/bolehdicoba.com\/news-blog\/bahaya-flexing-culture-alternatif-yang-bisa-brand-gunakan\/","url":"https:\/\/bolehdicoba.com\/news-blog\/bahaya-flexing-culture-alternatif-yang-bisa-brand-gunakan\/","name":"Bahaya \u2018Flexing Culture\u2019 &amp; Alternatif yang Bisa Brand Gunakan?","isPartOf":{"@id":"https:\/\/bolehdicoba.com\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/bolehdicoba.com\/news-blog\/bahaya-flexing-culture-alternatif-yang-bisa-brand-gunakan\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/bolehdicoba.com\/news-blog\/bahaya-flexing-culture-alternatif-yang-bisa-brand-gunakan\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/bolehdicoba.com\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/Flexing-Culture-scaled.jpg","datePublished":"2025-02-22T00:31:00+00:00","dateModified":"2025-02-20T13:17:02+00:00","description":"Flexing culture adalah tren yang berbahaya karena memicu perilaku konsumtif. Kenali beragam strategi alternatif yang bisa digunakan brand","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/bolehdicoba.com\/news-blog\/bahaya-flexing-culture-alternatif-yang-bisa-brand-gunakan\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/bolehdicoba.com\/news-blog\/bahaya-flexing-culture-alternatif-yang-bisa-brand-gunakan\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/bolehdicoba.com\/news-blog\/bahaya-flexing-culture-alternatif-yang-bisa-brand-gunakan\/#primaryimage","url":"https:\/\/bolehdicoba.com\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/Flexing-Culture-scaled.jpg","contentUrl":"https:\/\/bolehdicoba.com\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/Flexing-Culture-scaled.jpg","width":2560,"height":1918,"caption":"flexing culture"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/bolehdicoba.com\/news-blog\/bahaya-flexing-culture-alternatif-yang-bisa-brand-gunakan\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/bolehdicoba.com\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Bahaya \u2018Flexing Culture\u2019 &amp; Alternatif yang Bisa Brand Gunakan?"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/bolehdicoba.com\/#website","url":"https:\/\/bolehdicoba.com\/","name":"Boleh Dicoba Digital","description":"","publisher":{"@id":"https:\/\/bolehdicoba.com\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/bolehdicoba.com\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/bolehdicoba.com\/#organization","name":"Boleh Dicoba Digital","url":"https:\/\/bolehdicoba.com\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/bolehdicoba.com\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/bolehdicoba.com\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/Logo.png","contentUrl":"https:\/\/bolehdicoba.com\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/Logo.png","width":201,"height":80,"caption":"Boleh Dicoba Digital"},"image":{"@id":"https:\/\/bolehdicoba.com\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/bolehdicoba.com\/#\/schema\/person\/32f6a424c81fd4134de87a7a223379af","name":"Anindita Dita","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/bolehdicoba.com\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/70f0369ddf669f9412840c20218fd1f2?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/70f0369ddf669f9412840c20218fd1f2?s=96&d=mm&r=g","caption":"Anindita Dita"},"url":"https:\/\/bolehdicoba.com\/id\/news-blog\/author\/dita\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bolehdicoba.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26729","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bolehdicoba.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bolehdicoba.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bolehdicoba.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/13"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bolehdicoba.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=26729"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/bolehdicoba.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26729\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":26748,"href":"https:\/\/bolehdicoba.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26729\/revisions\/26748"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bolehdicoba.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/26708"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bolehdicoba.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=26729"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bolehdicoba.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=26729"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bolehdicoba.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=26729"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}