All Article
4 Tren Marketing setelah Ramadan yang Lagi Hype, Wajib Dicoba!
Bicara soal momen paling krusial buat brand, kurang lengkap rasanya kalau nggak menyebut Ramadan. Pasalnya, Buddies, periode ini sering jadi momen paling aktif dalam aktivitas digital marketing. Tapi saat campaign berakhir, banyak brand kebingungan mencari tren marketing setelah Ramadan.
Selama sebulan penuh, kebanyakan brand udah mencurahkan segalanya di bulan Ramadan: campaign, promo, serta aktivitas konten lain. Tujuannya pun jelas: buat menarik perhatian konsumen. Sayangnya, setelah bulan puasa usai, perilaku konsumen biasanya mulai berubah. Hal ini bisa bikin bisnis melemah.
Karena itu, kamu wajib paham apa saja tren marketing setelah Ramadan.
Perubahan Perilaku Konsumen setelah Ramadan
Setiap bulan Ramadan, selalu ada lonjakan transaksi besar-besaran. Faktanya, satu dari dua konsumen di Indonesia membelanjakan lebih dari Rp 3 juta pada bulan Ramadan 2025. Tahun sekarang pun tidak akan jauh berbeda. Bahkan 74% konsumen akan mengalokasikan dana lebih besar pada tahun ini.[1]
Hasilnya, banyak brand membuat atau mengikuti tren marketing Ramadan untuk mencari engagement dan konversi ke sales. Biasanya, skala campaign marketingnya besar dan mendapat hasil yang maksimal. Tapi setelah lebaran, transaksinya turun 30–40% di bawah rata-rata harian Ramadan.[2]
Adanya penurunan transaksi ini biasanya terjadi karena pola konsumsi audiens yang berubah, seperti:
- Konsumen kembali ke rutinitas kerja dan aktivitas sehari-hari.
- Aktivitas belanja cenderung lebih selektif setelah periode pengeluaran tinggi.
- Konsumsi konten digital kembali stabil setelah lonjakan selama Ramadan.
Perubahan ini membuat brand perlu menyesuaikan pendekatan marketing agar tetap relevan dengan kebutuhan audiens. Campaign khas Ramadan udah nggak relate lagi buat mereka. Jadi, kamu butuh ide konten setelah lebaran baru. Bisa dengan mengikuti tren yang sedang hits atau bahkan memantik tren baru.
Tren Marketing setelah Ramadan yang Perlu Diperhatikan
Bicara soal tren marketing saat ini, ada banyak hal yang bisa dicoba, Buddies. Kalau buat mempertahankan momentum bulan Ramadan, berikut beberapa tren yang perlu kamu perhatikan!
1. Konten yang Lebih Relatable dengan Kehidupan Sehari-hari
Selama periode Ramadan, konsumsi media audiens biasanya dipenuhi dengan konten bertema religius dan emosional. Tapi setelah itu, preferensi mereka akan berubah. Audiens akan lebih tertarik pada konten yang dekat dengan kehidupan sehari-hari karena sudah balik ke aktivitas normal.
Kamu bisa memanfaatkannya untuk membuat konten yang membahas rutinitas, entah itu back to work, produktivitas, atau pengalaman sehari-hari. Tema-tema ini sering kali lebih mudah menarik perhatian audiens.
2. Dominasi Video Pendek di Media Sosial
Jika kamu bertanya-tanya apa saja tren terbaru dalam dunia digital marketing, salah satunya adalah video pendek. Format konten video pendek di platform kayak TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts masih menjadi format konten yang sangat populer.
Pada tahun 2026, 91% bisnis secara aktif memanfaatkan video pendek. Brand yang masih ragu untuk terjun ke tren ini biasanya akan mengalami penurunan ROI dan mempersempit potensi untuk menemukan audiens baru.[3] Sekitar 82% marketer setuju kalau short video marketing di media sosial sukses bikin ROI positif.[4]
Karena itu, brand yang bisa bikin konten video pendek dengan tepat bisa meningkatkan peluang untuk mendapatkan engagement besar. Terlebih kalau kamu menambahkan cerita atau storytelling yang kuat. Paduan keduanya merupakan tren strategi marketing yang paling powerful di tahun 2026.
3. Strategi Marketing yang Lebih Data-Driven
Salah satu kesalahan terbesar banyak brand saat mengikuti tren adalah mengabaikan data. Padahal, data adalah kunci untuk menciptakan strategi yang paling efektif. Karena itu, brand harus melakukan evaluasi performa marketing setiap kali selesai melakukan campaign, terlebih campaign besar seperti Ramadan.
Data dari campaign sebelumnya bisa kamu pakai untuk menyusun strategi marketing di periode berikutnya. Hasilnya, campaign baru akan lebih terarah dan terasa lebih maksimal.
4. Fokus pada Retargeting Audience
Buddies, audiens yang sebelumnya pernah berinteraksi dengan brand selama Ramadan punya potensi conversion yang lebih tinggi. Karena itu, strategi retargeting bisa jadi salah satu pendekatan marketing yang bisa kamu gunakan setelah Ramadan karena terbukti efektif buat banyak brand.
Memahami tren marketing itu sangat penting, terutama setelah periode campaign besar seperti Ramadan. Tujuannya untuk membantu brand menyesuaikan strategi pemasaran agar paling tepat karena ada perubahan perilaku konsumen.
Brand juga bisa dibantu sama tim ahli BDD dalam layanan:
- Digital Strategy, untuk menganalisis campaign lama dan menciptakan strategi baru berdasarkan data.
- Social Media Management, untuk mengelola media sosial dan menjaga engagement-nya.
- Performance Marketing, untuk menjaga performa brand selama periode pemasaran.
Dengan bantuan tim BDD, brand bisa memanfaatkan data campaign lama buat menjaga performa. Selain itu, brand juga bisa membuat konten yang sedang hype dan mengikuti tren marketing setelah Ramadan. Hal ini bisa membuka peluang pertumbuhan baru setelah periode campaign besar. Jadi, ayo dicoba sekarang!
Related Article
5 Minutes Essentials
11 Apr 2026
Dari “Channel Terbaik” ke Sistem yang Jalan Bareng
Masih fokus di satu channel? Di 2026, growth datang dari sistem yang terintegrasi. Pelajari strategi cross-channel marketing dari insight BDD.
Read More
5 Minutes Essentials
10 Apr 2026
Beyond the Dashboard: Apa yang Sebenarnya Terjadi di Digital Growth 2025?
Banyak data belum tentu berarti growth. Simak insight Digital Growth 2025 dari BDD dan strategi marketing 2026 berbasis data yang lebih presisi
Read More
All Article
31 Mar 2026
Rahasia Optimasi Budget Digital Marketing agar ROI Maksimal & Tips Praktisnya
Temukan ragam rahasia optimasi budget digital marketing, dari cara menentukan anggaran hingga tips praktis agar ROI maksimal di sini!
Read More