Posted on 27 Nov 2025
Back to main article
Posted on 27 Nov 2025

Di tengah ramainya konten di media sosial, memahami cara bikin iklan yang nggak terasa seperti iklan jadi tantangan terbesar kita. Audiens hari ini jauh lebih cerdas, cepat mengenali tanda-tanda promosi dan hanya berhenti pada konten yang terasa relevan bagi mereka. Karena itu, pendekatan iklan pun tidak bisa lagi sekadar “menawarkan”, tetapi harus mampu menyatu dengan cara orang menikmati konten.

Nah, supaya iklan nggak dilewatkan begitu saja, kita perlu pahami dulu alasan orang nggak suka iklan yang terlalu menjual.

Kenapa Orang Nggak Suka Iklan yang Terlalu “Jualan”

Iklan yang efektif tidak bisa lagi hanya mengandalkan ajakan membeli atau visual yang terlalu rapi. Pengguna media sosial membuka platform untuk santai, mencari hiburan, atau sekadar melepas penat. Ketika tiba-tiba disuguhkan promosi yang terlalu agresif, reaksi spontan mereka biasanya akan skip iklan atau promosi tersebut.

Orang yang sering terpapar iklan juga cepat mengenali tanda konten promosi. Jika visual terlalu sempurna, bahasa terlalu persuasif, atau format mirip promosi, otak memberi sinyal untuk skip. Misalnya, saat kamu lagi scroll TikTok cari hiburan, tiba-tiba muncul iklan produk dengan gaya narasi kayak brosur—langsung skip, kan?

Itu kenapa, iklan yang paling disukai sekarang adalah yang terasa natural, ngalir dan nyambung sama kebiasaan audiens saat menikmati konten. 

Rahasia Iklan Yang Disukai

Nah, biar iklan kamu nggak di-skip, berikut beberapa hal yang bikin audiens justru suka dan tertarik. 

Rahasianya ada pada cara membuat iklan yang terasa alami, relevan, dan memberi value lebih bagi audiens. Dengan memahami prinsip ini, iklan tidak hanya dilihat, tapi juga disukai dan diingat.

Berikut beberapa elemen yang membuat iklan disukai antara lain: 

  • Narasi yang Natural (Story-first, Product-second)

Mulai dari cerita ringan yang relate dengan kehidupan sehari-hari, seperti keresahan kecil atau pengalaman lucu. Setelah audiens tertarik dengan ceritanya, baru sisipkan produk secara halus.

  •  Visual yang Sesuai Platform

Setiap platform punya gaya visual berbeda dan cobalah sesuaikan tone setiap platform—TikTok lebih spontan, Instagram rapi dan aesthetic, serta YouTube yang terstruktur.

Visual yang cocok dengan platform terasa lebih natural dan tidak seperti iklan.

  • Value dan Relevansi

Audiens lebih tertarik pada iklan yang memberi manfaat langsung, seperti tips singkat, insight, atau informasi praktis. Semakin relevan dengan keseharian mereka, semakin mudah diingat

  • Soft CTA

Ajak audiens dengan ajakan halus yang terasa organik, misalnya “Boleh chat admin, ya?” atau “Pelajari lebih lanjut.

Belajar dari Iklan dengan Storytelling yang Kuat

Iklan yang sukses selalu dimulai dari cerita yang relate dan gampang diingat.

Contohnya, salah satu iklan Hostinger di YouTube, menampilkan momen sederhana saat mencari nama domain, lucu, dan relevan.

Storytelling bikin audiens ngerasa ‘terlibat’ dulu sebelum dikasih tahu soal produk — ini yang bikin pesan lebih nyantol.

Hal yang Bikin Iklan Kurang Diterima Audiens

Selain tahu resep suksesnya, penting juga tahu kesalahan umum yang bikin audiens ilfeel.

Banyak iklan sebenarnya punya pesan atau produk yang bagus, tetapi cara penyampaiannya membuat orang langsung kehilangan minat.

  • Iklan terlalu cepat jualan → audiens belum sempat paham konteks.
  • Klaim berlebihan → bikin audiens ragu.
  • Janji nggak realistis → turunkan kepercayaan.

Intinya, audiens lebih menghargai kejujuran dan storytelling yang relevan daripada janji manis yang susah dibuktikan

Pada akhirnya, semua balik lagi ke cara kita memahami perilaku audiens. Selama iklan dibuat dengan cerita yang natural, visual yang pas dengan platform, dan manfaat yang jelas, audiens akan lebih mudah menerima pesan kita.

Inilah cara sederhana namun efektif untuk membuat iklan yang tetap bekerja tanpa harus terlihat seperti promosi yang berlebihan.

Nah, kalau kamu mau hasil iklanmu lebih optimal atau pengen bikin campaign yang relevan dan nggak terasa ‘jualan’, yuk eksplor lebih dalam bareng tim creative BDD.

Related Article

BDD Social Commerce Trend 2026
26 Jan 2026

Social Commerce 2026: Era Baru di Mana Setiap Scroll Bisa Jadi Transaksi

Social Commerce 2026 mengubah cara brand menjual. Pelajari strategi live shopping, UX, dan iklan untuk mengubah scroll menjadi sales

Read More
https://bolehdicoba.com BDD , Budget Marketing
22 Jan 2026

Budget Marketing: Diam-Diam Bocor di Balik Campaign Tanpa Strategi

Budget marketing sering bocor tanpa disadari akibat campaign tanpa strategi. Pelajari penyebab dan cara mengelola budget marketing agar lebih efektif.

Read More
BDD Tren Digital Marketing 2026
20 Jan 2026

7 Prediksi Tren Digital Marketing 2026: Siapkah Bisnis Anda Bersaing?

Masuk tahun 2026, digital marketing berubah cepat. Simak 7 prediksi tren digital marketing 2026 yang wajib dipahami agar bisnis tetap relevan dan unggul

Read More