Posted on 29 Jan 2026
Back to main article
Posted on 29 Jan 2026

Kebanyakan dari kamu pasti nyadar kalau dunia digital sedang berubah. Dulu, ada cookie yang bikin brand kamu mengenali dan menargetkan audiens dengan mudah. Tapi kini, elemen ini mulai banyak ditinggalkan. Hasilnya, kamu perlu memikirkan cara baru seperti strategi first-party data.

Sayangnya Buddies, masih banyak orang yang belum melek soal apa itu first-party data. Padahal, data ini bisa jadi aset paling berharga di era cookie-less seperti sekarang. Sebab, kini semua aspek kehidupan sangat menekankan pada privasi, dan first-party bisa jadi investasi penting pada bisnis. 

Tapi nggak perlu khawatir, sebab semua informasi soal first-party data bisa kamu temukan di sini. Ada penjelasan tentang definisi, fungsi, dan cara mengumpulkan data tanpa mengganggu pengguna. 

Apa Itu First-Party Data dan Kenapa Penting

Buddies, tahukah kamu apa yang dimaksud dengan first-party data? Istilah ini merujuk pada informasi yang kamu kumpulkan langsung dari pelanggan melalui website, email subscription, atau interaksi di media sosial. Jadi, bisa dibilang first-party data adalah pengganti cookie yang lebih andal.

Pada saat menggunakan cookie, hanya sekitar 25,4% pengguna di semua demografi yang mengklik opsi “accept all cookie”.[1] Sebagian besar user lebih memilih mengabaikannya karena alasan privasi atau alasan lain yang sejenis. Sedangkan user yang setuju dengan first-party data sekitar 48%.[2]

Berbeda dengan data cookie dari pihak ketiga, cara pengumpulan first-party data juga lebih akurat, relevan, dan sesuai regulasi privasi. Dengan data ini, kamu juga bisa membangun hubungan yang lebih personal dan berkelanjutan dengan pelanggan tanpa bergantung pada pihak lain.

Cara Mengumpulkan Data Tanpa Mengganggu Pengguna

Meskipun fungsinya esensial, tapi ada beberapa hambatan, kekhawatiran, dan perasaan negatif lain saat kamu mengumpulkan data. Salah satu contoh yang paling umum adalah takut mengganggu pengguna. Maka dari itu, kamu bisa menerapkan strategi data pihak pertama berikut ini!

1. Gunakan Formulir Interaktif atau Pop-up Ringan dengan Value yang Jelas

Ketika mengakses web tertentu, kamu mungkin pernah melihat pesan pop-up. Nah, ternyata kamu bisa memanfaatkan fitur ini buat mulai mengumpulkan data. Caranya bisa dengan subscribe atau daftar untuk mendapatkan akses konten eksklusif, newsletter, promo, dan lain-lain. 

Selain pop-up, kamu juga bisa menawarkan penawaran tersebut via formulir interaktif. Tipsnya adalah membuat konten ringan tapi punya value jelas. 

2. Maksimalkan CRM dan Analytics Tools 

First-party data strategy ini bisa kamu lakukan untuk melacak perilaku pengguna secara etis. Tapi, sebelum melakukannya, pastikan transparansi sudah berjalan seperti semestinya. Jangan lupa beri tahu pengguna bahwa kamu mengambil data mereka dan bagaimana data mereka akan digunakan. 

3. Integrasi Data untuk Strategi yang Lebih Efektif

Selain dengan cara mengumpulkan data pihak pertama di atas, kamu juga wajib memerhatikan integrasi data. Pasalnya, data bisa berasal dari banyak sumber, dari email, media sosial, formulir, pop-up website, dan lain-lain. Tanpa integrasi, semua data tersebut akan berantakan dan sulit dipelajari.

Jadi, first-party data bukan sekadar untuk dikumpulkan. Kamu juga perlu mengintegrasikannya agar memberi manfaat yang lebih maksimal. Coba bangun sistem yang kuat dan andal untuk mengolah big data pelanggan. 

4. Gunakan Data Pelanggan untuk Memperkuat Campaign via Email Marketing

Jika sudah terintegrasi, langkah selanjutnya adalah memanfaatkan data. Kamu bisa menggunakannya untuk memperkuat campaign dan strategi pemasaran, terutama via email marketing. Coba buat email dengan pesan yang lebih relevan dan sesuai kebutuhan pelanggan agar konversi lebih besar.

4. Sinkronkan dengan Ads Platform 

Tujuannya biar campaign lebih presisi. Jadi, saat ada user yang mengklik ads, kamu bisa dapat data pelanggan tanpa harus bergantung pada cookie. Hal ini berlaku untuk semua platform, bukan hanya dari Google.

5. Bangun Segmentasi

Segmentasi bisa membantu kamu memahami life-cycle pelanggan. Lihat bagaimana kebiasaan pelanggan A, lalu masukkan ke segmen pasar yang relevan. Untuk setiap segmen, kamu bisa menawarkan pendekatan yang berbeda agar hasilnya lebih efektif dan maksimal. Selain itu, peluang upsell juga meningkat. 

Kesimpulan

Era tanpa cookie bukan akhir dari personalisasi, justru awal dari strategi baru yang lebih cerdas dan beretika. Kamu tetap bisa mendapat data pelanggan untuk keperluan bisnis dengan strategi data pihak pertama. Cara ini lebih disukai karena mengedepankan consent dan privasi.

Karena itu, segera bangun dan kelola aset datamu sendiri agar bisnis tetap unggul. Terlebih karena kamu harus bersaing di dunia digital yang penuh perubahan. Jika butuh bantuan, jangan ragu buat tanya-tanya ke tim profesional seperti BDD, khususnya buat layanan CRM & Performance Marketing.Bersama tim BDD, kamu bisa mulai merancang strategi first-party data terbaik yang relevan dengan tren saat ini. Kamu juga bisa belajar soal cara mengoptimalkan CRM bisnis di sini. Jadi, tunggu apa lagi? Ayo hubungi tim BDD sekarang juga dan optimalkan semua strateginya!

Related Article

corporate training
29 Jan 2026

Mengapa Corporate Training Perlu Beradaptasi dengan Perubahan Dunia Kerja

Temukan alasan mengapa corporate training perlu beradaptasi dengan perubahan zaman, lengkap dengan penerapan sistem baru di era digital!

Read More
https://bolehdicoba.com BDD, Old Strategy
29 Jan 2026

Old Strategy Masih Relevan? Tapi Kenapa Tetap Perlu Diperbarui?

Masih mengandalkan old strategy atau strategi marketing lama? Tanpa pembaruan digital, pertumbuhan bisnis bisa stuck di situ-situ aja.

Read More
BDD Social Commerce Trend 2026
26 Jan 2026

Social Commerce 2026: Era Baru di Mana Setiap Scroll Bisa Jadi Transaksi

Social Commerce 2026 mengubah cara brand menjual. Pelajari strategi live shopping, UX, dan iklan untuk mengubah scroll menjadi sales

Read More