Posted on 26 Dec 2025
Back to main article
Posted on 26 Dec 2025

Merasa sudah jor-joran keluar modal untuk hire Creative Agency, tapi grafik penjualan masih jalan di tempat? 

Sebenarnya, siapa yang salah? Agency-nya kurang oke, atau justru brand sendiri yang belum mengerti cara menempatkan peran agency dengan tepat? Yuk, kita bongkar faktanya di sini!

Kesalahan Brand dalam Menempatkan Creative Agency

Gagal scale up itu wajar, Buddies. Seringnya bukan karena agency-nya kurang oke, tapi karena ekspektasi brand yang nggak realistis atau salah paham soal peran agency.

Padahal, creative agency adalah mitra profesional yang bantu bisnis tumbuh, bikin kampanye kreatif, memperkuat branding, dan menyusun strategi digital marketing.[1] Fungsinya membantu, bukan jalan sendiri, artinya butuh koordinasi, kolaborasi, dan pemanfaatan resources dari kedua pihak. Tapi kenyataannya:

  • Brand cuma fokus di eksekusi → hasil minim dampak: Brand minta konten “cantik”, tapi nggak pernah ngobrol soal customer journey secara keseluruhan. 
  • Budget pelit, ekspektasi selangit → agency kesulitan deliver: Brand ingin hasil setara brand global, tapi enggan investasi di riset, media buying, atau tools yang penting. 
  • Kurang komunikasi dan feedback → arah kampanye melenceng: Agency dibiarkan kerja sendiri tanpa arahan jelas.

Kalau kondisinya sudah seperti ini, siapapun creative agency di Indonesia pasti bakal kesulitan menjalankan tugasnya.

Agency sebagai Mitra Strategi

Produk solid, tim internal kuat, dan market mulai merespons positif, tapi growth terhambat? Masalah ini terjadi karena agency cuma kamu pandang sebagai eksekutor, bukan partner strategis. 

Berikut perbandingan singkat antara brand yang berhasil naik level dan yang gagal.

Brand yang Berhasil ScaleBrand yang Stuck
Melibatkan agency sejak perencanaan dan strategiHanya minta konten “jadi” tanpa ikut diskusi strategi
Berani invest di iklan berbayar dan tools marketingSelalu minta layanan murah tapi minim modal
Aktif berkomunikasi dan memberikan feedback spesifik soal konten, copy, dan visual. Minim komunikasi dan feedback

Behind-the-Scene Agency Thinking

Untuk menghasilkan outcome yang nggak cuma keren, tapi juga efektif, kamu perlu memahami cara kerja creative agency adalah proses yang panjang, Buddies. 

1. Proses Kreatif yang Tidak Terlihat

Banyak orang cuma lihat hasil akhir campaign, padahal di balik layar, agency menghabiskan waktu untuk:

  • Riset pasar dan tren, memahami perilaku target audience.
  • Analisis kompetitor untuk menemukan peluang unik.
  • Mengumpulkan insight yang jadi pondasi strategi campaign.

Proses ini penting karena setiap keputusan kreatif harus didasarkan pada data dan insight yang valid.

2. Cara Berpikir dan Proses Agency

  • Brainstorming tim kreatif dan strategists untuk menciptakan ide terbaik.
  • Iterasi ide berkali-kali hingga menemukan konsep paling efektif.
  • Menjaga keseimbangan antara kreativitas dan tujuan bisnis.

3. Menyusun Konsep atau Ide Strategis

Dari insight dan ide yang terkumpul, agency menyusun konsep strategis:

  • Menentukan key message dan tone brand.
  • Memetakan customer journey dan touchpoints yang tepat.
  • Menentukan channel terbaik untuk menjangkau target audience.

Konsep ini jadi blueprint sebelum masuk tahap produksi, memastikan semua langkah terarah.

4. Eksekusi dan Produksi

  • Ide dikonversi menjadi konten nyata: video, copy, atau konten interaktif.
  • Penyesuaian format konten dengan channel target, misal Instagram, TikTok, YouTube, atau website.

5. Post-Produksi dan Evaluasi

  • Editing dan review untuk memastikan kualitas terbaik.
  • Optimisasi campaign berdasarkan data awal (A/B testing, media placement, dsb.).
  • Monitoring performa: engagement, klik, conversion, atau KPI lain.
  • Evaluasi dan rekomendasi untuk campaign berikutnya.

Model Kolaborasi Ideal Brand dan Creative Agency

Agar partnership antara brand dan agency memberi hasil maksimal, ini panduan peran dan alurnya:

Peranan  Masing-Masing

  • Brand Owner: Menentukan visi, tujuan, dan target, memberi arahan strategis, serta menyetujui strategi, budget, dan KPI.
  • Tim Marketing Internal: Menghubungkan brand owner dan agency, menyusun brief, memantau campaign, dan memastikan konsistensi branding.
  • Creative Agency: Menyusun strategi kreatif berdasarkan insight dan brief, serta memberi rekomendasi optimisasi untuk hasil maksimal.

Alur Komunikasi

Kick-off meeting (brand owner, internal marketing, agency) → menyepakati tujuan, target, dan ekspektasi → internal marketing kirim brief lengkap ke agency → agency memberikan konsep/draft konten → review dan feedback → revisi konsep → komunikasi rutin mingguan/harian untuk memastikan campaign sesuai timeline dan visi.

Alur Evaluasi

Agency memonitor performa (engagement, conversion, reach) → hasil dibagikan ke internal marketing dan owner → evaluasi bersama → agency beri rekomendasi strategi berikutnya. 

Belajar dari Case Study: Colorbox x BDD

Colorbox sempat kesulitan scale up meski sudah beriklan digital karena platform belum optimal dan fitur Click & Collect terabaikan. Dengan arahan dan komunikasi yang jelas dari brand, BDD masuk melakukan audit dan langkah strategis lainnya.

BDD kemudian mengaktifkan Click & Collect, menjalankan kampanye edukatif, promosi eksklusif di website, meningkatkan UX, memperluas iklan, dan optimisasi kreatif.

Hasilnya? Penjualan melalui Click & Collect menyumbang 20–30% pendapatan website bulanan, ROAS capai 100, pertumbuhan tetap stabil di musim sepi, dan tim internal jadi lebih selaras.

Insight: menempatkan agency secara strategis bisa mengubah arah pertumbuhan brand.

Mau brand naik level tapi arah strateginya masih samar? Yuk, ngobrol santai dulu bareng tim BDD. Sebagai contoh creative agency yang paham cara kerja strategis, BDD bisa bantu bisnis kamu tumbuh dengan lebih baik. Mencari creative agency terbaik di Indonesia? BDD creative agency siap memastikan pertumbuhan brand kamu terlihat nyata, bukan cuma janji belaka.

Related Article

BDD Social Commerce Trend 2026
26 Jan 2026

Social Commerce 2026: Era Baru di Mana Setiap Scroll Bisa Jadi Transaksi

Social Commerce 2026 mengubah cara brand menjual. Pelajari strategi live shopping, UX, dan iklan untuk mengubah scroll menjadi sales

Read More
https://bolehdicoba.com BDD , Budget Marketing
22 Jan 2026

Budget Marketing: Diam-Diam Bocor di Balik Campaign Tanpa Strategi

Budget marketing sering bocor tanpa disadari akibat campaign tanpa strategi. Pelajari penyebab dan cara mengelola budget marketing agar lebih efektif.

Read More
BDD Tren Digital Marketing 2026
20 Jan 2026

7 Prediksi Tren Digital Marketing 2026: Siapkah Bisnis Anda Bersaing?

Masuk tahun 2026, digital marketing berubah cepat. Simak 7 prediksi tren digital marketing 2026 yang wajib dipahami agar bisnis tetap relevan dan unggul

Read More