All Article
Kenapa Content Framework Penting dalam Strategi Konten
Kalau melihat performa brand atau digital agency, kamu pasti sadar satu hal: banyak konten terasa “aman”, tapi dampaknya minim. Masalahnya sering bukan pada ide atau kualitas eksekusi, melainkan tidak adanya content framework yang jelas. Padahal, konten memang harus diproduksi secara konsisten—dan tanpa struktur, konsistensi justru jadi bumerang.
Apa yang dimaksud dengan content framework? Istilah ini merujuk pada kerangka kerja yang mengatur arah, tujuan, dan bentuk konten agar selaras dengan branding serta audiens di berbagai platform.[1] Konten jarang gagal karena kehabisan ide, tapi karena content creation framework yang tidak rapi sejak awal. Itulah sebabnya, memahami framework dan strateginya jadi krusial sebelum bicara soal kreativitas.
Konten yang Jalan Tanpa Kerangka, Lost Direction

Di era serba digital seperti sekarang, konten adalah hal yang vital buat brand. 83% marketer mengatakan bahwa konten marketing adalah metode yang paling efektif untuk menghasilkan demand.[2] Sekitar 63% pemilik bisnis bahkan nggak ragu buat bayar ads buat mempercepat distribusi konten.[3]
Jadi, produksi konten nggak boleh berhenti. Kalender harus penuh, channel wajib aktif, dan eksekusi harus terus berjalan. Tapi, hal ini bakal terasa sia-sia kalau kamu nggak punya kerangka. Tanpanya, kamu nggak akan tahu konten mau dibawa ke mana. Meski rutin, dampaknya bakal minim.
Contohnya banyak banget dalam beberapa tahun terakhir. Nggak sedikit brand yang upload konten setiap hari tapi engagement dan konversinya sangat rendah. Hal ini nggak selalu terjadi karena ide dan eksekusinya jelek, bisa juga karena lost direction dan pesan yang nggak konsisten.
Ketika Tidak Dibangun sejak Awal

Jika merujuk pada content marketing framework, kamu wajib membangun ide dari nol. Nggak akan bisa langsung dieksekusi tanpa planning yang jelas dan lugas.
Sebab, tanpa content planning, hasilnya akan:
1. Tujuan, Audiens, dan Pesan dalam Konten Nggak Selaras
Misalnya, tujuannya untuk brand awareness di kalangan Gen Z tapi isi dan pesan kontennya lebih relate sama boomer. Hasilnya, konten kamu nggak akan dilirik sama sekali. Kalah saing sama kompetitor. Kalau ada niche tertentu, kamu wajib talk and act like them. Inilah yang dimaksud dengan keselarasan konten.
2. Konten Mudah Terjebak Tren Tanpa Konteks
Ikut-ikutan tren emang sering jadi andalan para kreator agar brand lebih dikenal luas. Tapi, kalau content building tanpa konteks, eksekusinya bakal jadi bumerang. Selain itu, konten jenis ini sulit dikembangkan atau di-scale.
Strategi yang Dibangun di Atas Content Framework

Supaya memudahkan, ada content strategy framework template yang bisa kamu ikuti dengan mudah, yaitu:
1. Tetapkan Tujuan sebelum Eksekusi
Hal pertama yang perlu kamu perhatikan sebelum membuat konten adalah tujuan atau objective. Langkah ini penting buat menentukan arah, kontennya mau dibawa ke mana. Apakah kamu cuma mau memberi informasi, membangun kepercayaan, menghibur pelanggan, atau berbagai tujuan lainnya.
Selain menjadi dasar pembuatan konten, tujuan juga bisa berfungsi sebagai alat ukur keberhasilan konten. Jika audiens berhasil dapat informasi baru, lebih percaya pada brand, terhibur, dan lain-lain, artinya konten kamu berhasil.
2. Pesan Harus Selaras di Semua Channel
Pada era digital, sebagian besar brand pasti punya lebih dari satu channel marketing. Karena itu, penting untuk membuat konten yang selaras di semua channel. Studi menyebutkan bahwa brand dengan strategi omnichannel yang baik bisa mempertahankan rata-rata 89% pelanggan mereka.[4]
Hal ini karena pelanggan suka mencari tahu produk di lebih dari satu channel brand tersebut sebelum memutuskan buat membelinya. Jika tidak konsisten, pelanggan nggak akan mau percaya sama produk kamu. Jadi, pastikan suara dalam semua konten di semua channel harus sama.
Lalu, jangan lupakan siapa target audiens dari brand kamu. Bangun pesan yang relate dengan mereka agar pesan bisa tersampaikan dengan baik dan tepat sasaran.
3. Lakukan Proses Kerja Sesuai Framework
Setelah tujuan dan pesannya sudah ada, kamu tinggal mengeksekusinya. Coba buat kerangka tentang hal yang perlu kamu lakukan, mulai dari bagaimana tone dan suara, pemilihan gaya penyampaian, efek visual, dan lain-lain. Lakukan proses kerja sesuai yang tertulis pada framework agar lebih efektif.
Jika merasa kesulitan membuat framework sendiri, ada Social Media Management Service dari BDD yang bisa kamu coba. Kita bisa bantu merancang, mengeksekusi, dan juga menyebarluaskan semua konten kamu. Hasilnya bisa lebih maksimal dan sesuai tujuan awal dan selalu relevan dengan zaman.
Jadi Buddies, sekarang kamu sudah tahu kan, definisi dan fungsi dari content framework? Eksistensinya vital buat bisnis, sehingga kamu nggak perlu ragu buat reach out tim profesional agar agar setiap posting punya arah, konsisten, dan relevan dengan tujuan brand. Karena itu, yuk, hubungi tim BDD dari sekarang!
Related Article
All Article
03 Feb 2026
Overchoice: Kenapa Kebanyakan Pilihan Justru Bikin Kita Nggak Jalan
Overchoice adalah kebanyakan pilihan, yang justru bikin bingung, lelah, dan nggak jalan. Ini dampak negatifnya pada proses kreatif!
Read More
All Article
03 Feb 2026
Social Commerce 2026: Mengubah Scroll Menjadi Sales Secara Instan
Kenali bagaimana social commerce trends di tahun 2026, mulai dari evolusi hingga strategi untuk mengubah scroll menjadi sales
Read More
All Article
03 Feb 2026
Checklist Audit SEO Website Awal Tahun: Amankan Ranking #1 Google
Temukan checklist audit SEO website 2026 di sini, dari technical audit, content audit, backlink health, gap keyword, dan seterusnya!
Read More