Posted on 15 Dec 2025
Back to main article
Posted on 15 Dec 2025

Konten kamu mungkin sudah aesthetic, tertata rapi, dan bahkan sempat viral. Tapi anehnya, hasil penjualan tetap nggak bergerak. Tenang, ini bukan berarti kontenmu jelek atau kamu kurang kreatif.

Masalahnya, konten yang bagus aja nggak otomatis bikin orang beli. Aesthetic itu penting, tapi kalau tanpa arah yang jelas, konten hanya berhenti jadi “enak dilihat” tanpa membawa pembaca ke langkah berikutnya. Di sinilah pentingnya untuk memahami customer journey.

Konten Bagus Belum Cukup Tanpa Memahami Customer Journey

Konten awareness itu tugasnya menarik perhatian, sementara konten conversion fokus mendorong tindakan. Keduanya sama-sama penting, tapi fungsinya jelas berbeda. Sayangnya, masih banyak brand menganggap semua konten harus langsung jualan—padahal audiens perlu proses untuk kenal, paham, dan percaya dulu.

Konsumen selalu melewati tiga tahap penting: melihat kondisi sebelum, membayangkan perubahan sesudah, dan melihat bukti nyata bahwa manfaatnya memang bisa mereka dapatkan. Kalau rangkaian ini terlewat, konten se-aesthetic apa pun tetap susah convert.

Karena itu, memahami customer journey itu penting banget. Journey membantu kamu tahu kapan harus bikin orang sadar, kapan harus membangun kepercayaan, dan kapan harus mendorong pembelian. Tanpa peta ini, kamu bisa aja bikin konten yang bagus, tapi terasa “melayang” karena nggak sesuai tahap audiens.

Kalau journey-nya nggak dipahami, konten kamu akan nyebar tanpa arah dan hasilnya minim. Banyak brand lalu mengira kontennya sudah “berhasil” hanya karena engagement tinggi, padahal itu belum tentu tanda audiens siap beli.

Engagement Tinggi Tidak Sama dengan Conversion

 Like, share, dan save bukan indikator penjualan. Itu hanya tanda bahwa kontenmu menarik secara permukaan. Banyak konten viral yang perform karena sifatnya menghibur, relatable, atau inspiratif, bukan karena mendorong orang untuk mengambil tindakan. Maka wajar kalau konten inspiratif bisa dapat banyak like, tapi tetap tidak menghasilkan conversion.

Untuk mendorong pembelian, audiens butuh konten yang informatif dan menjawab keberatan mereka—mulai dari harga, manfaat, sampai rasa aman untuk mencoba. Inilah yang tidak bisa dipenuhi hanya dengan konten aesthetic atau konten motivasi. Karena pada akhirnya, engagement tinggi hanya berarti awareness naik, bukan otomatis sales ikut naik.

Konten Tidak Terhubung dengan Landing Page atau CTA

Konten bagus tanpa memahami customer journey, ditambah engagement yang ternyata tidak sama dengan conversion, biasanya berujung pada satu masalah akhir yang besar: audiens tidak dapat menemukan page yang ingin dituju. Mereka sudah tertarik, sudah engage, tapi ternyata belum diarahkan dengan jelas untuk melangkah ke tahap berikutnya.

Ketika hal ini terjadi, minat yang seharusnya bisa berubah jadi tindakan justru dapat berhenti di tengah jalan. Sayangnya, konten yang sudah menarik sering kali tidak dibarengi dengan arahan lanjutan yang jelas. Audiens pun akhirnya bingung harus menuju ke halaman mana—produk, pricing, atau detail layanan.

Itulah kenapa penting banget memastikan setiap konten terhubung ke page yang tepat. Jika mengarahkan ke halaman yang tidak relevan, misalnya CTA “beli sekarang” tapi malah menuju blog atau about us, momentum pembelian pun langsung hilang. 

Pastikan setiap konten terhubung ke halaman yang sesuai dengan niat audiens. Ajakan membeli harus menuju halaman produk atau checkout, kebutuhan konsultasi mengarah ke form atau WhatsApp, dan pencarian informasi layanan membuka halaman layanan yang lengkap. Arah yang jelas membantu audiens melangkah tanpa ragu dan meningkatkan peluang konversi.

Konten aesthetic memang penting, tapi itu bukan inti dari conversion. Kalau strategi, funnel, dan edukasi tidak berjalan dengan benar, konten sebagus apa pun tetap sulit menghasilkan penjualan.

Kalau kamu ingin konten yang tidak hanya cantik, tapi juga mampu membawa audiens dari awareness hingga benar-benar convert, tim Performance Creative kami siap bantu kamu menyusun strateginya. BDD ada buat bantu kamu wujudin itu!

 

Related Article

BDD Social Commerce Trend 2026
26 Jan 2026

Social Commerce 2026: Era Baru di Mana Setiap Scroll Bisa Jadi Transaksi

Social Commerce 2026 mengubah cara brand menjual. Pelajari strategi live shopping, UX, dan iklan untuk mengubah scroll menjadi sales

Read More
https://bolehdicoba.com BDD , Budget Marketing
22 Jan 2026

Budget Marketing: Diam-Diam Bocor di Balik Campaign Tanpa Strategi

Budget marketing sering bocor tanpa disadari akibat campaign tanpa strategi. Pelajari penyebab dan cara mengelola budget marketing agar lebih efektif.

Read More
BDD Tren Digital Marketing 2026
20 Jan 2026

7 Prediksi Tren Digital Marketing 2026: Siapkah Bisnis Anda Bersaing?

Masuk tahun 2026, digital marketing berubah cepat. Simak 7 prediksi tren digital marketing 2026 yang wajib dipahami agar bisnis tetap relevan dan unggul

Read More