5 Minutes Essentials
All Article
RIP “Everyone is Our Target”: Saatnya Beralih ke Meaningful Relevance
“Produk ini cocok untuk semua orang” “Produk ini untuk siapa saja”
Kalimat tersebut sering kita dengar di dunia marketing, tujuannya mulia yaitu untuk bisa “nyasar” ke semua kalangan agar produknya bisa terjual dengan banyak dan masif. Anggapan bigger audience = better marketing dianggap sebagai hukum mutlak. Logikanya makin luas jaring, makin banyak ikan yang ditangkap.
Tapi untuk sekarang, formula tersebut sudah bisa dibilang kadaluarsa. Ketika sebuah message mencoba menyapa semua orang, pada akhirnya message tersebut tidak akan terasa relevan bagi siapapun.
Mengapa “Semua orang adalah Target” harus ditinggalkan?

Saat ini, audiens tidak lagi menjadi penonton pasif tetapi menjadi penonton aktif yang dapat mencari informasi, kesukaan, dan sesuatu yang “dia banget” karena relevansi yang sangat tinggi, serta didukung oleh algoritma yang menyesuaikan dengan minat dari per audiens. Mereka berkumpul menjadi komunitas – komunitas kecil berbasis minat, value, dan pain point yang spesifik.
Memaksakan mass message di era sekarang akan menimbulkan dua hal, yaitu: budget iklan yang boncos dan message campaign yang tidak terdeliver.
| Mass Marketing | Relevance Marketing | |
| Focus | Reach sejauh dan seluas mungkin | Relevansi se-deep mungkin per orang |
| Asumsi | Bigger audience = better conversion | Right community = higher customer lifetime value (LTV) |
| Metode | Satu arah | Dua arah |
| Target | Demografi kasar (usia, lokasi) | Behavior, culture, problem |
Apa yang Berubah? Dari Untuk Semua Orang ke Komunitas yang lebih Niche
Perubahan yang terjadi dalam perilaku konsumen saat ini adalah membangun trust, karena audiens sekarang tidak lagi percaya dengan janji-janji manis dari brand yang memang terkesan langsung jualan. Mereka mencari brand yang memang mengerti konteks, problem, dan membawa solusi yang sedang dihadapi karena audiens sekarang membutuhkan teman dan yang memiliki value yang sama
Untuk memahami individu atau audiens tidak serta merta hanya riset sehari atau dua hari tetapi memerlukan deep research yang mendalam, karena untuk dapat reach audience tidak hanya berbicara budget media yang besar tetapi harus memahami faktor-faktor berikut:
- Memahami problem-problem atau pain point keseharian yang dirasakan oleh community secara spesifik
- Masuk ke subculture dengan memahami bahasa dan budaya lokal tempat audiens berkumpul seperti komunitas running akan berbeda dengan komunitas moms atau komunitas frugal-living
- Solusi yang relatable tetapi tidak overpromising, hadirkan solusi yang bisa menolong yang dapat menjawab problem atau pain point secara spesifik untuk audiens
3 Langkah untuk Menggeser ke Relevance Marketing

- Re-Targeting Audience, daripada menargetkan “semua wanita pekerja” mending ubah ke “wanita karier yang membutuhkan solusi efisiensi masak dibawah 15 menit”. Pesan ini memiliki rumus “What + How + Who” dan pastinya lebih tepat untuk menyasar pain pointnya
- Mapping Community Context, Identify dimana target audiens kamu bisa berdiskusi. Apakah di platform chat seperti Whatsapp Group, atau Social Media seperti TikTok, Instagram, X, atau di Threads yang sedang naik daun. Sesuaikan emosi bahasa yang digunakan juga
- Bangun Konten yang memiliki Emosi yang tepat, seperti konten yang akan menimbulkan “ini aku banget atau ini gue banget” yang pada akhirnya membuat audiens kamu akan share ke circle terdekat mereka lagi secara organik
Siap Bongkar Strategi Relevance Marketing?

Memahami relevance marketing hanyalah satu dari sekian banyak perubahan marketing yang terjadi sekarang. Strategi yang berhasil tahun lalu bahkan kuartal kemarin belum tentu works di kuartal sekarang yang menyebabkan ke budget marketing kamu.
Jika ingin mendalami bagaimana strategi marketing yang dulu tidak relevan lagi dan harus mengubahkan ke strategi lainnya dengan dieksekusi oleh para praktisi terbaik di industri ini, Digital Marketing Weekend (DMW) 2026 adalah tempat yang tepat
Amankan tiket DMW 2026 ini lebih awal sekarang juga di fase pre-sale 1. Kuota pre-sale 1 sangat terbatas.
Related Article
All Article
28 Sep 2026
Kenapa Website Tidak Muncul di Google? Ini 7 Penyebab dan Cara Mengatasinya
Read More