5 Minutes Essentials
All Article
Gen Z vs Millennials: 5 Insight Penting Buat Brand yang Mau Tumbuh Lewat Konten
Content series Gen Z vs Millennials ini awalnya emang sengaja kami bikin buat A/B testing. Menariknya, inspirasi dari konten pertama ini datang dari interaksi tim BDD sehari-hari. BDD bikin seri Gen Z vs Millennials yang ngebandingin dua generasi lewat short vertical video. Tapi ternyata, series ini jadi salah satu performance terbaik kami, dengan total views lebih dari 11 juta, engagement rate sampai 6.2%, dan completion rate yang tembus 75%!
Setelah konten pertama kami berhasil, kami coba gali insight lebih dalam lagi. Performa ini berhasil bukan karena formatnya aja, tapi juga karena kontennya ngena. Ngeselin, lucu, tapi relatable. Hal ini yang nge-trigger orang buat komen, share, bahkan debat di kolom komentar.
Dari sinilah kami sadar kalau konten yang perform bukan cuma soal viral, tapi soal gimana kita bisa ngerti audience behaviour. Nah, BDD rangkum 5 insights penting dari eksperimen ini yang bisa kamu terapin buat content marketing kamu, Buddies!
1. Humor itu Bukan Cuma Gimmick
Menurut riset dari Oracle dan Gretel dalam laporan The Happiness Report (2022), 91% Gen Z dan Millennial lebih suka brand yang witty atau lucu. Tapi lucunya harus kontekstual. Bukan sekadar pake meme yang lagi ngetren, tapi bisa ngeledek diri sendiri atau stereotipe dengan cara yang ringan dan relevan.
Di series Gen Z vs Millennials, konten yang paling tinggi engagement-nya justru yang ngebandingin gaya komunikasi dua generasi ini, dengan nada yang playful. Karena lucunya nggak maksa—malah bikin audiens merasa dilihat, sekaligus ditertawakan (dengan sayang).
2. Pendek, Padat, Punya Hook
Video 40–50 detik bisa tembus completion rate sampai 70% ke atas. Tapi, video berdurasi 3 menit performancenya drop banget, bahkan nggak nyampe 10%.
Artinya? Suka nggak suka, saat ini attention span audiens kita itu relatif pendek. Mereka lebih suka scroll cepat, bahkan skip lebih cepat lagi. Makanya, kalau mau bikin konten yang nempel, jangan muter-muter di depan. Langsung aja ke poinnya.
3. Personalisasi adalah Kunci!
Konten yang performancenya lebih tinggi biasanya bikin audiens ngerasa, “Ih, ini gue banget!” Hal ini ngasih validasi bahwa Gen Z dan Millennial cenderung konsumsi konten yang lebih relevan sama keseharian dan identitas mereka.
Kalau kamu kasih konten atau produk yang terlalu generic, most likely mereka akan skip. Tapi, kalau kamu bisa komunikasiin pakai konteks yang dekat sama kehidupan mereka, potensi konten kamu berhasil bisa makin besar.
Menurut riset dari Idomoo (2023), 81% Gen Z bersedia berbagi data pribadi kalau itu bisa membuat mereka dapet pengalaman brand yang lebih personal. Singkatnya, relevansi = perhatian.
4. Social Value & Identity = Faktor yang Ngaruh ke Engagement
Buat Gen Z dan Millennial, konten yang ngebawa identitas sosial—kayak generasi, minat, atau pandangan hidup—lebih berpotensi dapet engagement tinggi. Di series kami, audiens engage bukan cuma karena lucu, tapi karena kontennya ngewakilin suara mereka.
Menariknya, efek identitas sosial ini juga kerasa di ranah profesional. Menurut data dari Insightful.io (2024), 75% Gen Z bisa banget resign dari tempat kerja kalau merasa value perusahaan nggak align sama mereka.
Artinya, audiens lo nggak cuma beli produk. Mereka juga cari konten dan brand yang bisa ngewakilin siapa mereka dan apa yang mereka peduliin.
5. Konteks Budaya Bikin Konten Lebih Ngena
Konten kayak Ramadan Edition, Music Edition, dan Lebaran Edition punya performa yang bagus karena ada konteks budayanya. Mereka ngasih rasa dekat, bukan cuma info. Kalau kamu tau audiens kamu lagi mikirin apa, dan kamu hadir dengan konten yang relevan, engagement bakal datang dengan sendirinya.
Timing juga penting. Konten dengan konteks budaya yang kuat bisa bantu brand tampil lebih nyambung dan adaptif terhadap momen.
Mau Konten kamu Nempel di Gen Z & Millennials?
Di BDD, kami pake pendekatan berbasis insights & performa. Konten kayak Gen Z vs Millennials ini bukan kebetulan, tapi hasil dari membaca perilaku dan menerjemahkannya jadi konten yang relevan dan engaging.
Tertarik bawa pendekatan ini buat brand kamu?
Yuk ngobrol soal layanan Creative Performance bareng tim BDD!
Referensi:
- Oracle x Gretel: The Happiness Report, 2022.
- Idomoo: Does Marketing Personalization Still Matter? Gen Z Says Yes, 2023.
Insightful.io: Gen Z at Work: How to Adapt, Engage & Thrive, 2024.
Related Article
All Article
26 Jan 2026
Social Commerce 2026: Era Baru di Mana Setiap Scroll Bisa Jadi Transaksi
Social Commerce 2026 mengubah cara brand menjual. Pelajari strategi live shopping, UX, dan iklan untuk mengubah scroll menjadi sales
Read More
All Article
22 Jan 2026
Budget Marketing: Diam-Diam Bocor di Balik Campaign Tanpa Strategi
Budget marketing sering bocor tanpa disadari akibat campaign tanpa strategi. Pelajari penyebab dan cara mengelola budget marketing agar lebih efektif.
Read More
All Article
20 Jan 2026
7 Prediksi Tren Digital Marketing 2026: Siapkah Bisnis Anda Bersaing?
Masuk tahun 2026, digital marketing berubah cepat. Simak 7 prediksi tren digital marketing 2026 yang wajib dipahami agar bisnis tetap relevan dan unggul
Read More