All Article
Trik Psikologi Harga yang Bikin Rp99.900 Kerasa Lebih Murah dari Rp100.000
Rp99.900 dan Rp100.000 selisihnya cuma seratus rupiah, tapi kenapa yang satu kerasa jauh lebih murah dibanding yang lain? Padahal kalau dipikir logis, bedanya nyaris gak ada artinya. Nyatanya, otak kita gak selalu mikir logis pas ngeliat angka harga, dan brand yang paham betul soal ini.
Fenomena inilah yang dipelajari lewat psikologi harga, alias pricing psychology. Bukan sekadar taktik iseng, tapi ada dasar cara kerja otak manusia yang bikin teknik ini konsisten efektif dari dulu sampai sekarang.
Psikologi Harga Itu Sebenarnya Ngomongin Apa?
Psikologi harga adalah pendekatan penetapan harga yang memperhitungkan bagaimana konsumen secara alam bawah sadar merespons angka, bukan cuma nilai nominalnya secara matematis. Jadi, dua harga yang secara logika hampir sama bisa menghasilkan persepsi dan keputusan beli yang jauh berbeda, tergantung cara angkanya disusun dan ditampilkan.
Strategi ini udah dipakai brand di berbagai industri, dari ritel, F&B, sampai e-commerce, karena efeknya nyata ke tingkat konversi, meski perubahan yang dilakukan kadang cuma soal digit terakhir angka harga.
Gimana Otak Kita Memproses Angka Harga?

Salah satu penjelasan paling umum adalah left-digit bias, alias kecenderungan otak buat lebih fokus ke digit paling kiri dari sebuah angka. Waktu ngeliat Rp99.900, otak cenderung menangkap angka itu sebagai “sembilan puluh sembilan ribuan”, bukan “seratus ribu”, meski selisihnya cuma seratus rupiah doang.
Proses ini kejadian secara cepat dan otomatis, jauh sebelum otak sempat mikir lebih teliti soal angka sebenarnya. Makanya, walaupun secara sadar orang tahu selisihnya kecil, kesan pertama yang udah kebentuk di kepala keburu bikin harga itu terasa lebih murah.
Selain itu, cara harga ditampilkan secara visual, ukuran font, warna, sampai posisi angka, juga ikut mempengaruhi persepsi mahal atau murahnya sebuah harga, bahkan sebelum konsumen sempat baca detail angkanya.
Teknik Psikologi Harga yang Sering Dipakai Brand
Ada beberapa teknik psikologi harga yang paling umum diterapkan, dan masing-masing punya cara kerja yang sedikit berbeda.
1. Charm Pricing
Ini teknik yang paling sering kita temui, harga yang diakhiri angka 9 atau 99, kayak Rp49.900 atau Rp199.000. Trik ini memanfaatkan left-digit bias tadi, biar harga kerasa lebih murah dibanding kalau dibulatkan.
2. Price Anchoring
Teknik ini nunjukkin harga awal yang lebih tinggi (biasanya dicoret) di samping harga yang sebenarnya ditawarkan. Harga awal ini jadi “jangkar” referensi, bikin harga yang sekarang terasa jauh lebih worth it, meski sebenarnya harga awal itu jarang atau bahkan gak pernah beneran dipakai.
3. Simple Number
Kebalikan dari charm pricing, teknik ini justru pakai angka bulat dan simpel, kayak Rp100.000 atau Rp250.000. Angka yang gampang diproses otak tanpa perlu mikir keras ini biasanya dipakai brand yang pengen kesan premium, elegan, dan gak keliatan kayak lagi banting harga.
Kapan Teknik Ini Efektif, Kapan Bisa Jadi Bumerang
Charm pricing dan price anchoring biasanya paling efektif buat produk sehari-hari, promo, atau kategori yang memang sensitif sama harga, karena kesan “lebih murah” jadi nilai jual utama yang dicari konsumen.
Tapi buat brand yang pengin dipersepsikan premium atau eksklusif, teknik kayak charm pricing justru bisa jadi bumerang. Angka yang “nanggung” kayak Rp999.000 bisa bikin brand kelihatan kayak lagi jualan diskon atau kurang percaya diri sama value produknya sendiri.
Di sinilah simple number biasanya lebih cocok dipakai, karena angka bulat ngasih kesan lebih tegas, stabil, dan gak terkesan sedang mengemis pembeli lewat trik harga. Jadi, pemilihan teknik ini sebenarnya harus disesuaikan sama positioning brand, bukan asal ikut-ikutan karena kelihatan works di brand lain.
Cara Uji Coba A/B Pricing di Campaign

Daripada nebak-nebak teknik mana yang paling cocok, cara paling aman adalah nguji langsung lewat A/B testing. Ini beberapa hal yang perlu diperhatiin.
- Uji satu variabel dalam satu waktu → misalnya cuma bandingin charm pricing vs simple number di angka yang sama, jangan ubah banyak elemen sekaligus biar hasilnya tetap jelas asalnya dari mana.
- Pastikan sampel audiensnya sebanding → bagi audiens secara acak dan seimbang ke tiap varian harga, biar hasilnya gak bias karena perbedaan karakter audiens.
- Ukur bukan cuma konversi, tapi juga margin → harga yang kelihatan menang dari sisi jumlah transaksi belum tentu menang kalau dilihat dari total profit yang dihasilkan.
- Jalanin dalam durasi yang cukup → kasih waktu yang cukup panjang biar hasilnya gak keburu diambil kesimpulan dari sampel yang masih terlalu kecil.
- Sesuaikan sama channel campaign-nya → harga yang works di iklan media sosial belum tentu hasilnya sama kalau ditampilkan di marketplace atau email promo, jadi tetap perlu diuji per channel.
Dengan pendekatan yang terukur kayak gini, keputusan soal harga jadi berdasarkan data riil dari perilaku audiens, bukan sekadar asumsi atau ikut tren.
Strategi Harga Butuh Eksekusi dan Komunikasi Visual yang Tepat
Teknik psikologi harga cuma akan terasa efeknya kalau dieksekusi dan dikomunikasikan dengan benar ke audiens yang tepat. Salah platform atau salah visual, sebagus apapun strategi harganya, hasilnya bisa gak maksimal.
Jasa Digital Ads dari BDD membantu brand ngejalanin dan menguji strategi harga langsung di ads maupun promo, biar hasilnya bisa dipantau secara terukur dan terus disempurnakan berdasarkan data performa nyata.
Sementara itu, jasa Performance Creative BDD bantu menerjemahkan strategi harga itu jadi komunikasi visual yang jelas dan meyakinkan, mulai dari cara nampilin harga coret, badge promo, sampai visual yang tetap menjaga kesan brand sesuai positioning-nya.
Jadi, kalau brand-mu mau eksperimen strategi harga tapi masih bingung soal eksekusi dan visualnya, BDD siap bantu biar hasilnya optimal dari sisi angka maupun tampilan.
Related Article
All Article
10 Aug 2026
Push Notification Marketing: Cara Bikin User Balik Lagi Tanpa Dianggap Spam
Push notification marketing bisa bikin user balik lagi ke web/app, tapi juga gampang bikin uninstall kalau salah eksekusi. Simak prinsip dan cara ukurnya di sini.
Read More
All Article
08 Aug 2026
Podcast Marketing Adalah Peluang yang Masih Dianggurin Banyak Brand, Sayang Banget
Podcast marketing adalah peluang audio content yang masih underrated. Simak kenapa podcast beda dari media sosial dan cara brand mulai memanfaatkannya.
Read More
All Article
07 Aug 2026
Referral Marketing Adalah Cara Murah Dapetin Pelanggan Baru, Ini Alasannya
Referral marketing adalah strategi yang bikin pelanggan lama jadi 'sales' baru buat brand-mu. Simak alasan efektifnya, jenis program, sampai contoh suksesnya.
Read More