Posted on 23 Jan 2026
Back to main article
Posted on 23 Jan 2026

Audit website adalah langkah krusial yang seringkali terasa memberatkan bagi pemilik situs maupun praktisi SEO pemula. Banyaknya data teknis, fluktuasi grafik di dashboard, hingga ratusan saran perbaikan dari berbagai alat analisis seringkali membuat kita merasa kewalahan di awal. Namun, sebenarnya proses evaluasi ini bisa dilakukan dengan lebih efisien jika Anda memiliki alur kerja yang sistematis.

Sebelum kita masuk ke langkah teknis yang lebih praktis, ada baiknya kita bedah terlebih dahulu alasan utama mengapa proses pemeriksaan website ini seringkali terasa begitu membingungkan.

Kenapa Audit Website Sering Bikin Bingung

Salah satu penyebab utama audit website terasa sulit adalah pendekatan yang kurang sistematis. Banyak proses audit dilakukan tanpa kerangka berpikir yang jelas, sehingga hasilnya sulit diinterpretasikan.

Kalau menggunakan tools seperti Screaming Frog atau Google Search Console, akan disuguhi daftar error yang panjangnya minta ampun

Nah, beberapa faktor yang sering memicu kebingungan dalam audit website, seperti:

  • Informasi yang Overload: Terlalu banyak data yang muncul sekaligus tanpa tahu mana yang harus diperbaiki duluan.
  • Terpaku pada Skor Tools: Terlalu mengejar nilai “100” di tools audit, padahal skor tinggi belum tentu menjamin trafik naik jika strategi kontennya salah.
  • Istilah Teknis yang Rumit: Munculnya istilah seperti canonical tag, render-blocking resources, hingga LCP issues yang seringkali tidak dipahami maknanya bagi pemula.
  • Prioritas issue: Semua temuan dianggap memiliki tingkat urgensi yang sama, padahal dampaknya berbeda-beda.

Akibatnya, audit website terasa seperti laporan teknis yang panjang, namun tidak memberikan arahan yang jelas.

Untuk menghindari hal ini, audit website perlu dimulai dari satu fondasi penting yaitu tujuan yang spesifik.

Audit Website Perlu Tujuan yang Jelas

Melakukan audit website tanpa tujuan ibarat pergi belanja ke supermarket tanpa daftar belanjaan—  kamu mungkin akan membeli hal-hal yang tidak perlu. Setiap website memiliki kondisi kesehatan yang berbeda, sehingga fokus auditnya pun harus disesuaikan.

Secara umum, kamu bisa membagi tujuan audit ke dalam tiga pilar besar:

  1. Technical Audit: Fokus pada kesehatan “mesin” website agar mudah dirayapi (crawling) dan diindeks oleh Google.
  2. Content & On-Page Audit: Menilai apakah konten benar-benar menjawab kebutuhan audiens dan sudah relevan dengan target keyword.
  3. User Experience (UX) Audit: Memastikan pengunjung merasa nyaman, website tidak lambat, dan navigasinya mudah dipahami.

Kalau kamu udah menentukan skala prioritas di atas, nggak akan lagi ada waktu yang terbuang untuk mengurusi hal remeh yang dampaknya kecil bagi performa website. 

Nah, setelah tujuannya sudah mantap, kamu tinggal mengeksekusinya dengan lebih ringkas dan praktis.

Cara Audit Website yang Lebih Praktis

Agar proses audit tidak memakan waktu berminggu-minggu, kamu perlu menerapkan metode “eliminasi”. Jangan periksa semua hal sekaligus, tapi pada elemen-elemen yang memberikan dampak paling signifikan terhadap peringkat di search engine.

Nah, langkah praktis ini bisa kamu ikuti:

  • Cek Indexability: Gunakan perintah site:domainanda.com di Google untuk melihat apakah halaman penting Anda sudah terdaftar.
  • Analisis Kecepatan (Core Web Vitals): Gunakan PageSpeed Insights untuk melihat apakah website Anda lemot, terutama di perangkat mobile.
  • Audit Konten Duplikat: Pastikan tidak ada halaman yang isinya mirip satu sama lain agar Google tidak bingung menentukan mana yang utama.
  • Periksa Broken Links: Cari tautan yang mengarah ke halaman 404 dan segera arahkan (redirect) ke halaman yang relevan.

Langkah-langkah di atas adalah “pertolongan pertama” yang wajib dilakukan. 

Dengan alur ini, audit website menjadi lebih sistematis dan efisien. Namun, hasil audit tetap perlu dianalisis dengan benar agar tidak berhenti sebagai laporan teknis semata.

Terus, Gimana Membaca Hasil Audit Website?

Hasil audit website seharusnya digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan, bukan hanya sebagai daftar issue. Membaca hasil audit website bukan sekadar melihat daftar error yang berwarna merah, melainkan memahami narasi di balik data tersebut.  Kuncinya adalah dengan memfilter data tersebut menggunakan kacamata prioritas.

Biar nggak kewalahan, kamu bisa mengklasifikasikan hasil audit menjadi beberapa kategori:

  • Critical (Paling Utama): Masalah yang menghambat Google mengindeks website atau membuat pengguna langsung kabur. Contoh: Halaman 404 pada menu utama atau kecepatan loading yang lebih dari 10 detik.
  • Warning (Menengah): Masalah yang memengaruhi performa SEO tetapi tidak bersifat fatal. Contoh: Meta description yang terlalu panjang atau gambar yang tidak memiliki alt-text.
  • Notice (Opsional): Informasi tambahan untuk optimasi jangka panjang. Contoh: Mengubah format gambar ke WebP untuk efisiensi yang lebih baik.

Dengan cara ini, lebih mudah tahu mana yang harus diperbaiki pada halaman prioritas (yang mendatangkan trafik) dan mana yang bisa diabaikan pada halaman arsip yang sudah tidak relevan. Fokus pada hal-hal besar terlebih dahulu akan memberikan dampak yang lebih terasa pada performa website Anda.

Kalau masih bingung memulai audit website, kuncinya terletak pada penentuan tujuan dan alur kerja yang jelas.

Kalau kamu ingin belajar audit website lebih terstruktur dan langsung praktik dengan bimbingan dari para ahli, Bootcamp SEO Specialist dari Boleh Belajar bisa jadi langkah awal yang sangat relevan. Di sini, kamu akan dibekali dengan kurikulum yang komprehensif dan framework kerja nyata agar mahir melakukan audit secara profesional. Yuk, tingkatkan skill SEO-mu bersama Boleh Belajar!

Related Article

BDD Social Commerce Trend 2026
26 Jan 2026

Social Commerce 2026: Era Baru di Mana Setiap Scroll Bisa Jadi Transaksi

Social Commerce 2026 mengubah cara brand menjual. Pelajari strategi live shopping, UX, dan iklan untuk mengubah scroll menjadi sales

Read More
desain website
23 Jan 2026

Desain Website Bagus Itu Bukan Soal Cantik: Ini Cara Menilainya dengan Benar

Banyak desain website kelihatannya keren — warnanya pas, layout rapi, bahkan kelihatan “mahal”, tapi setelah jalan beberapa waktu, hasilnya nihil. Supaya nggak salah menilai, kita perlu melihat desain website dari sisi yang lebih praktis. Mulai dari kesalahan yang sering terjadi.

Read More
Digital Vs Creative Agency
21 Jul 2025

Digital Agency atau Creative Agency: Mana yang Cocok untuk Strategi Pemasaran Anda?

Bingung pilih jasa digital marketing yang tepat? Cari tahu perbedaan digital agency dan creative agency untuk strategi promosi bisnis Anda.

Read More