All Article
Employee Generated Content: Strategi Ampuh untuk Bisnis
Brand sering membuat konten resmi yang terlalu sempurna, sampai audiens malah susah percaya. Disisi lain, ketika karyawan cerita soal keseharian kerjanya di akun pribadi, responsnya justru bisa lebih hidup dan terasa lebih dekat.
Konten seperti ini bisa dikenal sebagai Employee Generated Content (EGC), yaitu konten yang dibuat dari inisiatif karyawan sendiri berdasarkan pengalaman mereka. Bentuknya bisa macam-macam, mulai dari video suasana kerja, kegiatan selama bekerja, sampai opini jujur soal tempat mereka bekerja.
Karena data langsung dari sudut pandang karyawan, Konten ini bisa terasa lebih personal dan relatable. Gaya komunikasinya juga biasanya lebih natural dibanding konten yang sepenuhnya dibuat oleh tim marketing.
EGC, UGC dan Employee Advocacy Itu Sama?

Ketiga istilah ini sering dianggap sama karena semuanya melibatkan orang lain dalam membuat atau membagikan konten brand. Sebenarnya perbedaan utamanya hanya pada siapa yang membuat dan siapa yang memulai kontennya.
User Generated Content (UGC) dibuat oleh konsumen atau audiens. Contohnya review produk, video unboxing, atau pengalaman menggunakan sebuah layanan.
Employee Advocacy biasanya melibatkan karyawan dalam aktivitas komunikasi perusahaan. Bentuknya bisa berbeda di setiap perusahaan, mulai dari memposting ulang konten resmi, membuat konten dengan panduan tertentu dari brand, dan lain sebagainya.
Sementara itu, EGC arahnya pada konten yang ada karena pengalaman atau inisiatif karyawan. Perusahaan bisa memberikan guideline, terutama untuk menjaga etika dan informasi yang bersifat rahasia, tetapi gaya komunikasinya tetap bisa mengikuti karakter masing-masing karyawan.
Kenapa Brand Mulai Melirik Konten dari Karyawan?

Ada beberapa alasan kenapa pendekatan ini menarik untuk di coba.
- Lebih personal, karyawan berbicara berdasarkan pengalaman pribadi mereka sehingga kontennya bisa terasa lebih dekat dengan audiens.
- Menambah jangkauan organik, konten dari akun pribadi bisa menjangkau jaringan pertemanan karyawan yang mungkin belum pernah dijangkau konten resmi brand.
- Mendukung employer branding, cerita jujur soal keseharian kerja atau budaya perusahaan biasanya lebih meyakinkan calon karyawan sebelum melamar.
- Menumbuhkan rasa memiliki, ketika karyawan dihargai dan dilibatkan, hal ini bisa membangun hubungan yang lebih positif dengan perusahaan.
- Bermanfaat lebih luas, konten dari karyawan bisa membantu menambah reach secara organik dan jika performanya bagus, dapat digunakan kembali untuk kebutuhan komunikasi brand atau didukung lewat iklan berbayar dengan distribusi yang lebih terarah.
Mau mulai EGC? Ini 5 Langkah yang Bisa Kamu Coba

Nggak perlu langsung buat program besar untuk mulai mencoba strategi ini. Yang terpenting perusahaan punya tujuan yang jelas, guideline yang sederhana, dan memberi ruang bagi karyawan untuk ikut berpartisipasi dengan cara mereka sendiri.
Tentukan Tujuan
Pertama, tentukan dulu konten ini untuk membantu apa. Apakah untuk employer branding, product awareness, recruitment, atau komunikasi B2B?
Buat partisipasi tetap sukarela
Tidak semua karyawan nyaman tampil atau berbicara di media sosial. Jangan menjadikannya suatu kewajiban. Berikan kesempatan bagi mereka yang memang tertarik untuk berbagi pengalaman atau keahliannya.
Buat guideline yang sederhana
Guideline tetap diperlukan, terutama untuk hal-hal seperti informasi rahasia, etika berkomunikasi, penggunaan logo, dan konten yang sebaiknya dihindari. Tapi, jangan samapi aturannya terlalu banyak hingga membuat konten terasa seperti gimmick perusahaan.
Siapkan contoh konten
Agar karyawan nggak kebingungan harus mulai dari mana?, berikut beberapa contoh yang bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan brand.
- Employer branding: day in the life, cerita keseharian di kantor atau pengalaman mengikuti kegiatan perusahaan.
- Product awareness: pengalaman menggunakan produk, cara menggunakan produk dalam keseharian, atau hal yang paling disukai dari produk tersebut.
- Recruitment: cerita tentang proses onboarding, pengalaman di posisi yang ditempati, atau tips untuk calon kandidat.
- B2B: insight dari employee atau expert internal, pendapat tentang tren industri, atau tips sesuai bidang yang dikuasa.
Contoh ini bukan berarti kontennya harus dibuat dengan format yang sama. Justru, karyawan tetap bisa membungkusnya dengan gaya mereka sendiri agar terasa lebih natural.
Berikan apresiasi
Tidak selalu berupa intensif, Repost di akun resmi perusahaan, memberikan recognition, atau sekadar mengapresiasi konten yang dibuat karyawan juga bisa menjadi bentuk dukungan.
Ukur EGC dari Engagement sampai Dampaknya
Setelah strategi ini berjalan, jangan hanya melihat pada seberapa banyak reach atau views dari konten. Angka ini bisa menunjukan respons audiens, tetapi belum tentu menggambarkan dampaknya terhadap tujuan bisnis.
- Engagement metric. Metrik seperti reach, views, likes, comments, shares, dan saves bisa membantu melihat bagaimana audiens merespon konten. Angka ini dapat menjadi gambaran awal apakah konten berhasil menarik perhatian dan mendorong interaksi audiens.
- Business outcome. Lihat apakah konten tersebut ikut mendukung tujuan bisnis yang ingin dicapai. Misal tujuan untuk recruitment, perusahaan bisa melihat jumlah kandidat yang masuk atau apakah konten karyawan menjadi salah satu sumber informasi bagi pelamar. Untuk tujuan product awareness, bisa melihat traffic, leads, atau konversi yang relevan.
Dengan membedakan keduanya, perusahaan bisa melihat hasil konten secara lebih menyeluruh, nggak cuman dari seberapa ramai kontennya, tetapi juga dari dampak terhadap tujuan yang ingin dicapai.
EGC Adalah Pergeseran dari Klaim Resmi ke Kredibilitas Individu
EGC bukan sekadar tren konten media sosial, tetapi cara baru brand membangun kepercayaan melalui kredibilitas individu yang lebih dekat dengan audiens.
Kalau dilakukan dengan tujuan yang jelas dan memberi ruang bagi karyawan untuk berpartisipasi secara natural, strategi ini bisa membantu brand membangun hubungan yang lebih dekat dengan audiens. BDD bisa membantu brand merancang dan memaksimalkan strategi, mulai dari produksi melalui layanan Performance Creative, hingga distribusi ke target audiens melalui Digital Advertising.
Mulai konsultasi gratis jika brand kamu ingin menyusun strategi yang sesuai dengan tujuan bisnis.
Related Article
All Article
28 Sep 2026
Kenapa Website Tidak Muncul di Google? Ini 7 Penyebab dan Cara Mengatasinya
Read More