Posted on 03 Mar 2026
Back to main article
Posted on 03 Mar 2026

Sudah rajin posting, tapi interaksi jalan di tempat dan pengikut malah bingung dengan apa yang kamu tawarkan? Bisa jadi ini karena kamu nggak punya content pillar strategy yang baik dan asal upload konten. Akibatnya, algoritma nggak ngerti siapa target bisnismu, dan audiens ngerasa kontenmu nggak nyambung sama mereka.

Apa itu content pillar? Content pillar adalah tema besar yang menjadi dasar dan acuan seluruh pembahasan kontenmu. Dengan menerapkannya, algoritma akan lebih mudah mengenali fokus brand-mu dan mendistribusikannya kepada audiens yang tepat. Dampaknya, visibilitas konten meningkat, relevansi terasa lebih kuat, dan brand terlihat lebih kredibel serta trustworthy.

Pertanyaannya sekarang, bagaimana cara eksekusinya? Ini dia step-by-step yang bisa langsung kamu praktikkan, Buddies!

1. Tentukan Core Topic Bisnis Kamu: Apa Value Utama Kamu?

Pertama, kamu perlu menentukan core topic atau topik inti yang paling relevan dengan bisnismu. Topik inilah yang nantinya akan menjadi fondasi sekaligus panduan utama dalam memproduksi konten. 

Gimana caranya?

1. Lihat Value Utama Brand Kamu

Tanya ke diri sendiri: apa yang kamu tawarkan di produk atau jasa kamu, lalu masalah apa yang bisa kamu solve buat audiens.

2. Kenali Audiens Kamu

Pahami pain points mereka: masalah apa yang mereka hadapi? Apa yang sering ditanya di DM, komentar, atau review? Permasalahan mereka bisa kamu bawa menjadi topik inti yang nantinya akan menarik untuk mereka lihat dan baca,.

3. Cek Kompetitor dan Tren

Lihat apa yang sering kompetitor bahas atau topik yang viral di niche yang sama dengan bisnismu. Bukan buat ditiru mentah-mentah, tapi buat nemuin celah atau angle unik brand-mu.

4. Pakai Data dan Keyword Research

Tools gratis kayak Google Trends, Answer the Public, atau TikTok Creative Center bisa bantu lihat apa yang dicari orang. Pilih topik yang punya search interest tinggi tapi masih nyambung sama brand-mu.

5. Ringkas Jadi 1–2 Core Topic

Jangan rakus dan ambil banyak topik. Fokus ke 1–2 inti, biar konten kamu nggak melebar ke mana-mana. 

2. Buat Turunan Konten (Sub-topics) untuk 30 Hari

Setelah sukses menentukan core topic, langkah selanjutnya adalah “memecah” ide besar tersebut menjadi konten-konten turunan yang lebih spesifik. Ibarat core topic adalah batang pohonnya, maka subtopik adalah dahan dan ranting yang bikin kontenmu terlihat rimbun. 

Dari satu pilar besar, kamu bisa menghasilkan puluhan ide konten yang cukup untuk stok postingan selama 30 hari, bahkan lebih! Kamu bisa menggunakan tools seperti Ubersuggest, People Also Ask, Ahrefs, Google Trend, social media search bar, dan masih banyak lagi. 

Biar nggak sama dan membosankan, kamu bisa membaginya ke dalam jenis 4 content pillar yang berbeda: Education, Entertainment, Inspiration, dan Promotion. Masing-masing punya role yang berbeda, tapi buat tetap bermuara pada topik utama brand kamu.

Lihat contoh content pillar Instagram untuk brand skincare berikut dengan core topic “kulit sehat dan glowing”. Ini bisa kamu breakdown menjadi:

1. Educational (The Expert Voice): Tujuannya buat bangun trust dan otoritas. Kamu adalah ahlinya.

  • Ciri-ciri skin barrier kamu lagi rusak (Kemerahan, bruntusan, kering).
  • Kandungan jagoan untuk repair skin barrier (Ceramide, Panthenol, Centella Asiatica).

2. Content Pillar Entertainment (The Relatable Friend): Tujuannya buat engagement dan biar audiens ngerasa “Ih, gue banget!”.

  • POV: Kamu pas liat jerawat mateng muncul tepat di hari H kencan.
  • Meme: Dompet menangis liat skincare habis barengan, tapi wajah butuh glowing.

3. Inspirational (The Social Proof): Tujuannya buat kasih bukti nyata dan bikin audiens termotivasi buat beli.

  • Skin Journey: Foto before-after asli dari customer (tanpa filter!).
  • Spill rutinitas skincare malam founder atau tim internal kantor.

4: Promotional (The Conversion): Tujuannya buat “jualan” tanpa terlihat maksa (soft-selling dan hard-selling).

  • Rekomendasi paket hemat untuk pemula (Basic Skincare Set).
  • Flash Sale tanggal kembar (Misal: 3.3 Sale).

Dari contoh ini, kamu bisa lihat bahwa satu core topic bisa kamu pecah jadi banyak angle konten yang tetap relevan, tapi tidak monoton. 

3. Hubungan Content Pillar dan Internal Linking SEO

Selain membantu kamu punya arah konten yang jelas, content pillar juga memudahkan kamu menggunakan internal linking yang relevan dan terstruktur.

Kenapa? Karena saat kamu sudah menentukan satu topik utama, semua artikel turunan yang kamu buat otomatis masih berada dalam satu jalur pembahasan yang sama. Jadi, saat kamu menautkan link antar-artikel, itu terasa natural dan memang dibutuhkan pembaca.

Perlu kamu tahu, penggunaan internal linking ini sangat Google sukai.[1] Google akan melihat website kamu sebagai sumber informasi yang lengkap, mendalam, dan punya struktur yang jelas. Hasilnya? Website kamu punya peluang jauh lebih besar buat nangkring di halaman pertama Google secara berkelanjutan. 

Nah, Buddies, menerapkan content pillar strategy memang butuh effort, tapi hasilnya jauh lebih sustainable daripada bikin konten random tiap hari. Konten yang nyambung, internal linking yang rapi, dan sub-topics yang terstruktur akan bikin brand kamu dilihat sebagai authority.

Butuh bantuan menyusun strategi dan konten yang berkualitas? Yuk konsultasikan kebutuhanmu dengan tim BDD agar strategi kontenmu nggak cuma jalan, tapi bisa convert traffic dan menjadi profit.

Related Article

strategi konten brand setelah hari raya
30 Mar 2026

Strategi Konten Brand setelah Hari Raya: Transisi Kembali ke Rutinitas

Temukan strategi konten brand setelah hari raya untuk jaga performa pasca transisi kembali ke rutinitas dari tema, format, dan lainnya!

Read More
tren marketing setelah Ramadan
30 Mar 2026

4 Tren Marketing setelah Ramadan yang Lagi Hype, Wajib Dicoba!

Temukan berbagai tren marketing setelah Ramadan yang hype di tahun 2026, dari konten relatable, format video pendek, dan lainnya di sini!

Read More
engagement social media
30 Mar 2026

Strategi Menjaga Engagement Social Media Pasca Ramadan

Temukan faktor yang memengaruhi engagement social media, lengkap dengan cara menjaga dan menaikkannya setelah momentum Ramadan di sini!

Read More