All Article
Social Commerce 2026: Mengubah Scroll Menjadi Sales Secara Instan
Dulu, media sosial cuma jadi tempat buat berinteraksi sama orang lain. Kamu hanya bisa mengunggah foto atau video, bercuit, berkomentar, dan menyukai konten aja. Tapi sekarang, setiap scroll bisa berakhir dengan transaksi. Inilah alasan kenapa kamu perlu belajar lebih jauh soal social commerce trends.
Pada tahun 2026, batas antara konten dan belanja semakin kabur. Buktinya, 54% B2B marketers dan 60% B2C marketers mengatakan kalau mereka mendapat prospek sales dari media sosial.[1] Bahkan, 31% pelanggan lebih suka checkout langsung di media sosial daripada harus berpindah ke aplikasi lainnya.[2]
Alasannya beragam, tapi kebanyakan orang suka melakukan transaksi di satu tempat agar lebih cepat, mudah, dan instan. Jadi, sudah siap untuk menyimak bagaimana kira-kira social commerce trends 2026?
Evolusi Live Shopping: Dari Hiburan ke Transaksi Real-Time

Salah satu contoh social commerce yang sedang tren sekarang adalah live shopping. Cara pemasaran yang seperti ini sebenarnya sudah ada sejak lama via channel TV dan e-commerce. Tapi, popularitasnya melejit drastis sejak Covid-19. Pada tahun 2019, jumlahnya naik 71,2% dari tahun 2018.[3]
Kini, live shopping bukan cuma sekadar tontonan di masa senggang aja, tapi juga pengalaman interaktif yang menggabungkan hiburan dan penjualan. Platform-nya pun mulai meluas. Kamu nggak cuma bisa melihatnya di TV atau e-commerce. tapi juga di TikTok Shop, Instagram, YouTube, dan lain-lain.
Perbedaan antara social commerce TikTok dan platform lainnya cukup subtle tapi tetap bisa dikenali, seperti:
- TikTok Shop: kreator berperan menjadi salesperson yang autentik. Mereka membuat konten video pendek dengan dipadukan tren-tren terkini, tren viral, dan lain-lain.
- Instagram: memadukan antara inspirasi visual dengan pembelian satu klik dalam bentuk foto, carrousels, atau reels.
- YouTube: menghadirkan integrasi produk langsung di dalam video. Misalnya di konten masak-masak, kamu bisa mengklik bahan atau alatnya secara instan untuk membelinya.
Fenomena ini membuktikan bahwa engagement kini bisa langsung diubah menjadi konversi. Pasalnya, semakin banyak orang yang tunein dan engage sama live shopping kamu, makin besar pula potensi penjualannya.
User Experience: Faktor Penentu Pembelian di Dalam Aplikasi

Dalam dunia social commerce, user experience (UX) adalah segalanya. Bahkan Buddies, studi membuktikan bahwa 61% pelanggan bersedia membayar lebih saat mereka tahu akan memiliki pengalaman yang baik selama berbelanja.[4]
Ada banyak faktor yang berpengaruh pada UX. Tapi, kini pelanggan paling mementingkan proses checkout yang terasa instan, aman, bebas gesekan, dan faktor-faktor sejenisnya. Lalu, penting juga untuk menggunakan deskripsi produk yang jelas, visual dinamis, dan tombol CTA menonjol untuk menarik minat pelanggan.
Khusus buat kamu yang menerapkan strategi social commerce di lebih dari satu platform, pastikan pelanggan merasakan pengalaman konsisten di semua channel. Entah itu video promosi, campaign, hingga halaman pembelian harus seragam. Tujuannya agar identitas brand tidak hilang.
Jangan lupa juga untuk integrasikan sistem pembayaran di semua social commerce channels pun beragam, selain TikTok, Instagram, YouTube, dan lainnya. Pastikan kamu memilih sistem dan kanal pembayaran yang mudah dan terpercaya.
Strategi Iklan: Menyatu dengan Pola Konsumsi Konten Iklan

Sebelum era digital, kamu dituntut untuk kreatif saat berikan agar bisa bersaing. Hal ini terus berlaku hingga sekarang, bahkan tuntutannya jauh lebih besar. Pada social commerce trends 2025 yang masih berlaku di 2026, iklan bukan hanya berfungsi sebagai interupsi, tapi bagian dari pengalaman konten.
Jadi, kamu wajib mengikuti pola konten konsumen. Iklan harus punya cerita, seperti konten media sosial pada umumnya Sebagai tips, gunakan format native ads seperti shoppable videos atau carousel stories.
Supaya PR terasa lebih mudah, kamu juga bisa berkolaborasi dengan kreator yang memahami audiens dan bisa menjual secara organik. Pasalnya, kini ads yang biasa-biasa aja dan tanpa cerita nggak akan “laku” dan nggak bisa bersaing. Terutama kalau target pasarnya Gen Z dan Millennial.
Pastikan juga buat menganalisis performa iklan secara real-time. Jadi, kamu bisa tahu mana yang campaign yang work dan mana yang enggak. Bila hasil iklan terasa kurang efisien dan memuaskan, coba evaluasi dan perbaiki. Misalnya dengan cara menyesuaikan strategi berdasarkan hasil analisis perilaku pembeli.

Banyak orang menganggap social commerce cuma bagian dari tren. Tapi ternyata, fungsinya jauh lebih luas karena merupakan masa depan pengalaman belanja digital. Semakin cepat brand beradaptasi, semakin besar pula peluang mereka untuk mengubah audiens pasif menjadi pembeli loyal.
Jadi, kamu perlu segera ikut serta dalam tren ini. Jika terasa sulit membuat strategi sendiri, nggak usah ragu buat minta bantuan dari tim profesional. Contohnya bantuan dari tim BDD melalui Social Commerce Strategy service. Tim kami bisa bantu kamu memahami social commerce trends dan merancang strategi terbaik biar bisa bersaing di pasar digital. Kini sudah saatnya buat menjadikan media sosial sebagai mesin uang otomatis. Yuk hubungi tim BDD boleh dicoba layanannya mulai hari ini!
Related Article
All Article
05 Mar 2026
Chat Jadi Mesin Sales? Ini Cara Brand Pakai WhatsApp API dengan Cerdas
Pelajari bagaimana WhatsApp API ubah chat jadi channel sales yang personal, scalable, dan profesional tanpa terasa spam bagi pelanggan
Read More
All Article
05 Mar 2026
Bukan Sekadar Rating: Peran Google Review dalam SEO dan Konversi
Google review memengaruhi trust, ranking lokal, dan konversi. Pelajari strategi kelola ulasan biar visibilitas dan performa bisnis naik
Read More
All Article
04 Mar 2026
Masih Ragu Pakai GDA? Ini Strategi yang Bikin ROAS Naik
Ragu pakai Google Display Ads? Pelajari strateginya untuk naikkan ROAS, jangkau audiens tepat, dan hindari pemborosan budget
Read More