Posted on 17 Apr 2025
Back to main article
Posted on 17 Apr 2025

Sound marketing di TikTok nggak sekadar bikin feed rame dengan lagu-lagu seru, Buddies. Faktanya, TikTok udah jadi ladang cuan baru buat brand dan musisi yang paham cara mainnya. Dari sekadar backsound, musik bisa jadi mesin penggerak engagement sekaligus revenue. 

Nah, di artikel ini kita bakal kupas gimana strategi sound marketing bisa bikin brand kamu nggak cuma viral, tapi juga untung beneran!

Monetizing Music di Era TikTok

Photo by freepik on freepik

TikTok hari ini bukan cuma platform hiburan, tapi udah jadi mesin distribusi sekaligus discovery musik paling aktif. Berbeda dari radio, TV, bahkan YouTube, TikTok memanfaatkan algoritma yang memprioritaskan lagu dengan potensi viral tinggi. 

Cukup lewat potongan audio yang pas, sebuah lagu bisa menembus jutaan FYP. Nggak heran, 74% pengguna TikTok bilang mereka menemukan musik baru dari platform ini.[1] Efek nyatanya? Streaming naik signifikan, peluang brand deals makin terbuka, bahkan exposure ke media lain jadi lebih mudah. 

Brand dan musisi yang peka momentum bisa dapetin lebih dari dari sekadar viralitas, tapi juga sustainable revenue. Inilah kenapa audio marketing di TikTok sekarang jadi senjata wajib, bukan lagi opsi.

Sound Marketing: Kolaborasi Musik & Brand yang Bukan Cuma Manis di Telinga

Photo by freepik on freepik

Sound marketing jadi senjata ampuh buat brand bukan tanpa alasan. Di TikTok, suara sudah jadi pemicu emosi dan aksi. Misalnya, brand seperti Shopee sukses besar lewat jingle “COD” yang simpel tapi nempel—hasilnya, 62,9% peningkatan brand awareness.[2] 

Lazada, di sisi lain, juga memanfaatkan sound identity yang kuat lewat campaign tematik dengan musik yang relate ke audiens muda. Tapi, kuncinya bukan asal pilih lagu viral. 

Lewat strategi sound marketing yang tepat, brand perlu menentukan: mau pakai original sound yang fresh atau licensed sound yang sudah punya fanbase? Pilihan ini bakal ngaruh ke engagement, brand recall, sampai koneksi emosional audiens. 

Lebih dari itu, jangan cuma kejar viralitas, tapi pastikan ada chemistry antara brand, musik, dan target market agar pesan lebih ngena dan sustainable.

Peran Musisi & Label: Bukan Cuma Supply Lagu, tapi Partner Strategis

Photo by pvproductions on freepik

Sekarang, musisi dan label nggak cuma jadi penyedia lagu, tapi partner strategis yang bantu brand bikin kampanye makin hidup. Ada banyak brand di TikTok yang udah mulai serius minta musisi crafting audio cue marketing mereka. 

Dengan begitu, sound nggak hanya enak didengar, tapi juga punya karakter yang nyambung sama audiens. Kolaborasi ini untung-untungan buat dua sisi: brand dapat sound yang unik dan gampang diingat, musisi dapat exposure ke jutaan user, serta cuan dari kerja bareng. 

Serunya, menurut TikTok for Business, 68% pengguna lebih engage sama konten yang punya sound relate dan engaging.[3] Makanya, nggak heran kalau tren kolaborasi kayak gini makin rame. 

Brand yang mau masuk TikTok wajib paham kalau sound branding bukan cuma bikin seru di telinga, tapi juga nempel di ingatan.

Licensing, Copyright, dan Revenue: Jangan Asal Pakai Lagu!

Photo by freepik on freepik

Pakai lagu di TikTok nggak bisa asal colong dan tempel, Buddies. Kalau mau jingle brand kamu bukan cuma viral tapi juga aman dan berumur panjang, urusan licensing dan copyright wajib masuk strategi sejak awal.

Brand yang main di TikTok wajib paham kalau setiap lagu punya pemilik hak ciptanya. Bahkan kalau kamu asal pakai sound viral tanpa izin, drama yang makan biaya dan merusak reputasi brand adalah risikonya, Buddies. 

Sekitar 50% dari musik yang digunakan pada platform TikTok nggak berlisensi, menunjukkan tingginya potensi pelanggaran hak cipta.[4] Supaya aman, brand bisa pakai sound dari Sound Library TikTok atau langsung kolaborasi dengan musisi dan label. Dua-duanya legal dan bisa di-custom buat kebutuhan campaign.

TikTok juga nyediain Creator Marketplace, buat brand yang mau cari kreator atau musisi untuk bikin sound eksklusif. Sound yang legal itu udah pasti aman. 

Kamu juga bisa pakai buat lintas platform, punya potensi revenue sharing, dan meningkatkan value kolaborasi brand-musisi. Jadi, daripada ambil risiko, mendingan dari awal main aman tapi tetap maksimal.

Saatnya Bikin Sound yang Nggak Cuma Viral, tapi juga Cuan!

Photo by pvproductions on freepik

TikTok dan musik udah jadi duet maut yang ngasih peluang revenue nyata buat brand dan musisi. Tapi, biar nggak cuma ikut-ikutan, brand perlu serius mikirin strategi sound-nya. 

Boleh Dicoba Digital (BDD) adalah partner yang tepat untuk hal ini. Mulai dari Creative Performance untuk bikin sound yang engaging, Digital Performance agar distribusinya tepat sasaran, sampai Content Development yang relevan dan ngena—semua bisa kamu konsultasikan dengan BDD, Buddies. 

Saatnya brand kamu nggak cuma numpang lewat di FYP, tapi panen hasil dari sound marketing yang tepat!

Related Article

Whatsapp API
05 Mar 2026

Chat Jadi Mesin Sales? Ini Cara Brand Pakai WhatsApp API dengan Cerdas

Pelajari bagaimana WhatsApp API ubah chat jadi channel sales yang personal, scalable, dan profesional tanpa terasa spam bagi pelanggan

Read More
Google Review
05 Mar 2026

Bukan Sekadar Rating: Peran Google Review dalam SEO dan Konversi

Google review memengaruhi trust, ranking lokal, dan konversi. Pelajari strategi kelola ulasan biar visibilitas dan performa bisnis naik

Read More
Google Display Ads
04 Mar 2026

Masih Ragu Pakai GDA? Ini Strategi yang Bikin ROAS Naik

Ragu pakai Google Display Ads? Pelajari strateginya untuk naikkan ROAS, jangkau audiens tepat, dan hindari pemborosan budget

Read More