Posted on 27 Sep 2026
Back to main article
Posted on 27 Sep 2026

Belanja online sekarang sangat bergantung pada efisiensi alur pengguna. Saat melihat produk menarik, kita mungkin ingin langsung mencari tahu detailnya. Namun, prosesnya bisa jadi panjang jika harus mencari produk secara manual. Semakin panjang alur belanja, semakin besar kemungkinan audiens kehilangan momentum untuk melanjutkan pembelian.

Disinilah shoppable content bisa dimanfaatkan. Pendekatan ini membantu menghubungkan konten dengan halaman produk atau pembelian secara lebih mudah dan singkat.

Wyzowl tahun 2024 mencatat, 88% pemasar menyebut video membantu audiens memahami produk. Selain itu, 88% pemasar juga menganggap video sebagai bagian penting dari strategi pemasaran mereka.

Apa Itu Shoppable Content?

Shoppable content adalah konten digital yang dilengkapi fitur atau tautan untuk memudahkan audiens menemukan produk. Formatnya bisa berupa foto, video, artikel, atau postingan media sosial yang terhubung dengan produk.

Lewat fitur tersebut, audiens bisa langsung berpindah dari konten ke halaman produk atau pembelian. Namun, tidak semua format memungkinkan audiens checkout langsung. Sebagian hanya mengarahkan audiens ke product page atau website.

Bedanya dengan konten promosi biasa, audiens tidak perlu mencari produk secara manual setelah tertarik dengan konten yang mereka lihat.

Jenis-Jenis Shoppable Content yang Efektif

Ada beberapa jenis shoppable content yang dapat disesuaikan dengan produk dan audiens.

Shoppable Images

Foto produk yang dilengkapi tag atau tautan produk. Misalnya, carousel instagram fashion yang menandai produk di setiap foto, atau foto pada artikel blog yang bisa diklik menuju halaman produk.

Shoppable Videos

Video yang menampilkan tautan produk di momen tertentu. Contohnya, video try-on pakaian yang menampilkan tautan produk ketika produk tersebut sedang digunakan.

Shoppable Articles

Shoppable articles adalah artikel yang menyisipkan produk dan tautan pembelian di tengah pembahasan. Misalnya, artikel “5 Rekomendasi Tas Kerja” menyertakan nama produk dan tombol “Beli Sekarang”. 

Pembaca bisa mengklik elemen tersebut untuk melihat detail produk atau melanjutkan pembelian. Jadi, yang diklik bukan sekadar gambar, tetapi nama produk, tombol, atau widget pembelian.

Shoppable Social Media Posts

Unggahan media sosial dengan fitur integrasi katalog produk. Audiens bisa melihat rincian harga dan langsung checkout tanpa perlu berpindah ke aplikasi lain.

Platform untuk Menerapkannya

Instagram Shopping dan Tiktok Shop jadi andalan brand karena memiliki basis pengguna yang sangat besar. Fitur katalog produknya juga sudah terintegrasi secara langsung dengan sistem pembayaran internal. 

Riset Populix yang dipublish tahun 2020, terhadap 6.285 responden mencatat intensitas belanja online tertinggi pada usia 18–21 tahun (35% ) dan 22–28 tahun (33%), sehingga hampir 70% didominasi Gen Z dan milenial muda. Kelompok inilah yang sedikit tidaknya terbantu dengan adanya alur belanja instan seperti ini.

Website atau Blog dengan Plugin Shoppable, untuk menambahkan label produk interaktif pada foto dan artikel. Cara ini memungkinkan blog perusahaan berfungsi sebagai kanal tambahan untuk mengenalkan sekaligus menjual produk.

Email Marketing dengan Tautan Produk, newsletter (email promosi) yang disisipkan tautan produk akan memudahkan penerima karena cukup mengklik tautan tersebut untuk menuju halaman produk atau checkout.

Cara Membuatnya Efektif

Membuat shoppable content yang efektif membutuhkan strategi matang, bukan sekadar menempelkan label produk pada gambar.

  • Tampilkan produk secara natural. Masukkan produk ke dalam konteks penggunaan sehari-hari.
  • Perhatikan kualitas visual. Kualitas visual menjadi salah satu faktor penting untuk menarik perhatian audiens saat scrolling.
  • Gunakan CTA yang jelas. Misalnya, “Lihat Produk”, “Lihat Detail”, atau “Beli Sekarang”.
  • Berikan informasi yang cukup. Harga, varian, dan keunggulan produk bisa disampaikan secara singkat.
  • Tambahkan social proof. Ulasan atau pengalaman pelanggan dapat membantu memberikan konteks sebelum audiens mengambil keputusan.

Bagaimana Mengukur Hasilnya?

Jangan hanya melihat jumlah likes atau views. Ini beberapa matriks yang perlu kamu perhatikan.

  • Click-through Rate (CTR): jumlah audiens yang mengklik tag atau tautan produk.
  • Conversion Rate: persentase klik yang berubah jadi transaksi. 
  • Average Order Value (AOV): rata-rata nilai transaksi dari kanal ini dibanding kanal biasa. 
  • Engagement Rate: like, komentar, dan share sebagai indikator relevansi. 
  • Revenue: pendapatan yang masuk langsung dari fitur shoppable content.

Shoppable Content Membuat Jarak Pembelian Semakin Pendek

Shoppable content bukan cuma soal menambah tag produk ke sebuah konten. Yang terpenting adalah bagaimana kamu membuat perjalanan audiens dari melihat produk sampai menemukan halaman pembelian terasa lebih mudah.

Jika visualnya menarik, informasi produknya jelas, dan alur pembeliannya nggak ribet, konten bisa punya fungsi lebih dari sekedar membangun awareness.

Kalau kamu butuh bantuan untuk membuat visual yang estetik dan mendukung tujuan penjualan, tim Performance Creative BDD bisa membantu dari sisi produksi hingga strategi kontennya. Kamu juga bisa memanfaatkan jasa Digital Ads untuk mendistribusikan konten ke audiens yang tepat.

Mari mulai merancang strategi shoppable content bisnis kamu bersama BDD.

Related Article

seo blog
27 Sep 2026

Apa Itu SEO Blog? 14 Cara Optimasi Blog Biar Banjir Traffic

Read More
seo on page dan off page
27 Sep 2026

Pahami Perbedaan SEO On Page dan Off Page & Cara Optimasinya

Read More
local seo
27 Sep 2026

Apa Itu Local SEO? Cara Optimasi agar Bisnis Mudah Ditemukan

Read More